Tag: mistery

[PART 5 - LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 5 – LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Diantara ramainya kafe yang berada tak jauh dari kosanku, kita terdiam. Sebuah kentang goreng dan dua gelas jus jeruk menjadi saksi bisu keheningan kita saat itu.

“Gimana kabar kamu Okta?” ucap Pak Hendra memecah keheningan antara aku dan beliau.

“Alhamdulillah baik Pak” balasku.

“Kenapa beberapa hari ini nggak masuk?” balas Pak Hendra dengan pertanyaan selanjutnya.

“Ehm iya Pak, agak nggak enak badan beberapa hari ini” ucapku menutupi kenyataan yang sebenarnya.

“Oh gitu. Tapi sekarang uda mendingan kan? Atau masih nggak enak badan?”

“Sekarang uda membaik kok Pak”

“Ok langsung aja ke intinya ya. Maaf sebelumnya karena belakangan saya sering menghubungi kamu. Itu karena memang ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan kamu dari terakhir kali kamu ikut kelas saya. Yang waktu kamu minta ijin karena sakit perut”

Beliau terdiam sejenak dengan tangan mengambil sebuah buku catatan berukuran seperti buku tulis pada umumnya, kemudian beliau mengambil sebuah kertas kecil yang diletakkan tepat di belakang sampul buku tersebut.

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Oke, pertemuan kali ini saya sudahi dulu. Terimakasih, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap Pak Hendra ketika menutup pertemuan hari itu.

Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas. Aku selalu keluar terakhir karena aku malas jika keluar duluan ketika mahasiswa lain masih duduk ataupun sedang membereskan barang mereka. Seakan membuat aku menjadi pusat perhatian, meskipun sebenarnya tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan suasana seperti itu.

“Tunggu sebentar Okta” ucap Pak Hendra memangggilku yang sedang berjalan menuju pintu.

“Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku yang kebingungan saat Pak Hendra memanggilku.

Suasana kelas mulai sepi, hanya ada Pak Hendra, aku, asisten dosen dan tiga mahasiswa lainnya yang masih sibuk membereskan barang mereka.

Triingg Triingg Triingg

“Sebentar ya Okta, saya angkat telfon dulu” ucap Pak Hendra sambil mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

“Oke pak” ucapku.

[Part 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Satu minggu setelah hari pengumuman itu, kami berkumpul lagi untuk membahas perkembangan acara yang sedang direncanakan. Dan tentu saja lagi-lagi aku bertemu dengan beliau. Semua anggota berdiskusi dengan sangat serius, aku pun melakukan hal yang sama. Sekitar lima jam kemudian diskusi pun kita tutup karena waktu yang telah cukup malam. Aku pun mengemas barang-barangku dan berpamitan dengan anggota lainnya, begitu pula dengan Pak Hendra.

“Pak Hendra saya pamit pulang dulu ya pak, terimakasih atas bantuannya hari ini” ucapku dengan penuh rasa hormat sambil menahan rasa aneh yang masih saja bergejolak dalam hatiku.

“Oh oke Okta. Hati-hati di jalan ya” ucap beliau.

[Part 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Pak Hendra, ini koding saya kok ngga jalan ya?” tanya seorang mahasiswa yang posisinya tepat disebelah kiriku.

Dengan sigap namun santai pak Hendra menghampiri mahasiswa tersebut, beliau periksa setiap kode dari baris satu hingga baris terakhir. Tanpa sadar aku sesekali memperhatikannya. Sesaat aku memperhatikan wajahnya, sesaat pula aku memperhatikan gerak gerik tubuhnya, termasuk gerak gerik tangannya. Namun, perasaan sedih dan kecewa menghampiriku ketika mata ini dengan jelas melihat sebuah cincin perak yang melingkar dengan indah di tangan kanan beliau. Cincin itu terlihat berkilau dan indah, seakan mendefinisikan perasaan nyata sang pemilik.

[Part 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

Hai pembaca, dapat salam dari panasnya ibukota.

Teruntuk kamu yang saat ini telah menjadi imamku.
Tahukah kamu bagaimana bahagianya aku saat ini?
Tahukah kamu betapa aku sangat bersyukur atas apa yang baru saja kita lalui?
Dan,.
Tahukah kamu bagaimana awal mula aku yang tanpa sadar mulai mengagumi sosokmu?

Akan kuberikan satu kata, yaitu “kertas”.

Dari segudang kertas yang pernah ku goreskan tinta, dari sekian kertas yang kumiliki, hanya satu kertas kecil itu yang tanpa sadar selalu kusimpan rapi diantara lembaran buku harianku. Sebuah kertas kecil bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”. Sebuah kalimat yang seharusnya tiada arti bagiku yang saat itu sama sekali tak mengenalimu, sang pemilik kertas tersebut.

Lalu, bagaimana semua ini dapat terjadi?

Selamat datang dalam dunia penuh cinta dan duka,.