Tag: cinta

Surat Terakhir Untukmu

[Surat Cinta untuk Evan] Surat Terakhir Untukmu

“Surat Terakhir Untukmu”

Sabtu, 10 Februari 2018

 

Sejak pertemuan kita hari itu, rasanya aku bahkan masih tak bisa menghapus perasaan ini.

Kamu sudah menyakitiku, tapi kenapa aku masih bertahan?

Bodoh ya aku hehehe.

Kamu saja tak menganggapku teman, Evan. Segitu nggak pentingnya ya aku? hehehe.

Dan beberapa hari yang lalu aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini sebagai surat terakhir untukmu.

Ya, aku tak akan lagi mengirimkan surat yang tak berguna ini.

Keheningan dalam Pertemuan

[Surat Cinta untuk Evan] Keheningan dalam Pertemuan

“Keheningan dalam Pertemuan”

Sabtu, 03 Februari 2018

 

Bagaimana kabarmu Evan?

Semoga selalu sehat ya,.

Ingatkah kamu beberapa hari yang lalu?

Rabu lalu saat kita berada pada satu acara.

Serius, aku tak menyangka akan menemukanmu ditengah keramaian itu.

Dan lagi, aku tak menyangka jika perusahaan tempat kita bekerja rupanya saling bekerjasama.

Ah, aku masih ingat betul detik itu.

[Surat Cinta untuk Evan] Liburan di Bali

[Surat Cinta untuk Evan] Liburan di Bali

“Liburan di Bali”

Sabtu, 6 Januari 2018

 

Selamat Tahun Baru Evan,.

Aku baru bisa menuliskan surat ini sekarang karena akhir tahun 2017 aku liburan di Bali bersama keluarga.

Menyenangkan, tapi aku merasa sesak diwaktu yang bersamaan.

Awalnya aku tak peduli.

Tapi rasa sesak itu semakin terasa ketika aku berada di Pantai Kuta.

Beberapa kali aku datang ke pantai tersebut, rasa sesak itu masih sama dan selalu datang.

Aku penasaran dan terus mencari dari mana rasa sesak itu datang.

[PART 5 - LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 5 – LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Diantara ramainya kafe yang berada tak jauh dari kosanku, kita terdiam. Sebuah kentang goreng dan dua gelas jus jeruk menjadi saksi bisu keheningan kita saat itu.

“Gimana kabar kamu Okta?” ucap Pak Hendra memecah keheningan antara aku dan beliau.

“Alhamdulillah baik Pak” balasku.

“Kenapa beberapa hari ini nggak masuk?” balas Pak Hendra dengan pertanyaan selanjutnya.

“Ehm iya Pak, agak nggak enak badan beberapa hari ini” ucapku menutupi kenyataan yang sebenarnya.

“Oh gitu. Tapi sekarang uda mendingan kan? Atau masih nggak enak badan?”

“Sekarang uda membaik kok Pak”

“Ok langsung aja ke intinya ya. Maaf sebelumnya karena belakangan saya sering menghubungi kamu. Itu karena memang ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan kamu dari terakhir kali kamu ikut kelas saya. Yang waktu kamu minta ijin karena sakit perut”

Beliau terdiam sejenak dengan tangan mengambil sebuah buku catatan berukuran seperti buku tulis pada umumnya, kemudian beliau mengambil sebuah kertas kecil yang diletakkan tepat di belakang sampul buku tersebut.

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Oke, pertemuan kali ini saya sudahi dulu. Terimakasih, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap Pak Hendra ketika menutup pertemuan hari itu.

Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas. Aku selalu keluar terakhir karena aku malas jika keluar duluan ketika mahasiswa lain masih duduk ataupun sedang membereskan barang mereka. Seakan membuat aku menjadi pusat perhatian, meskipun sebenarnya tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan suasana seperti itu.

“Tunggu sebentar Okta” ucap Pak Hendra memangggilku yang sedang berjalan menuju pintu.

“Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku yang kebingungan saat Pak Hendra memanggilku.

Suasana kelas mulai sepi, hanya ada Pak Hendra, aku, asisten dosen dan tiga mahasiswa lainnya yang masih sibuk membereskan barang mereka.

Triingg Triingg Triingg

“Sebentar ya Okta, saya angkat telfon dulu” ucap Pak Hendra sambil mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

“Oke pak” ucapku.