Tag: cerpen

[PART 2 - LAST] Nenek Rambut Kuning

[PART 2 – LAST] Nenek Rambut Kuning

[PART 1] Nenek Rambut Kuning

 

“Ya ampuunn neneekk,..” teriakku keras karena kaget melihat kondisi nenek yang tergeletak lemas dengan bekas darah di sekitar mulut dan dan di telapak tangan beliau. Denyut nadi beliau terdengar samar-samar. Saat itu juga aku langsung menelepon ambulance.

Sambil menunggu ambulance aku membaca beberapa doa agar nenek tersebut bisa selamat. Namun, bacaan doaku terhenti ketika melihat sebuah buku berukuran A5 yang ada di dekat nenek lengkap dengan sebuah bulpoin. Buku tersebut tak lagi terlihat baru, namun sangat menjelaskan bahwa usia buku tersebut telah puluhan tahun. Warna kertas buku tersebut sebagian telah berubah menjadi coklat muda. Tekstur kertasnya pun telah rapuh.

Tanpa sadar aku telah membuka lembar demi lembar dari buku nenek tersebut. Kubaca setiap kata yang beliau goreskan diatas lembaran-lembaran tersebut. Dari sembilan halaman pertama, aku mengetahui bahwa nenek Marni adalah seorang janda sejak umur 35 tahun. Kematian suami beliau yang tepat setelah acara pernikahan membuat beliau mengalami stress dan depresi berat. Beliau menutup diri dari dunia luar selama 35 tahun. Rumah bagus yang dulu beliau tempati telah dijual demi memenuhi kebutuhan hidup nenek. Awalnya nenek mengontrak rumah yang masih cukup layak.

[Surat Cinta untuk Evan] Liburan di Bali

[Surat Cinta untuk Evan] Liburan di Bali

“Liburan di Bali”

Sabtu, 6 Januari 2018

 

Selamat Tahun Baru Evan,.

Aku baru bisa menuliskan surat ini sekarang karena akhir tahun 2017 aku liburan di Bali bersama keluarga.

Menyenangkan, tapi aku merasa sesak diwaktu yang bersamaan.

Awalnya aku tak peduli.

Tapi rasa sesak itu semakin terasa ketika aku berada di Pantai Kuta.

Beberapa kali aku datang ke pantai tersebut, rasa sesak itu masih sama dan selalu datang.

Aku penasaran dan terus mencari dari mana rasa sesak itu datang.

Nenek Rambut Kuning

[PART 1] Nenek Rambut Kuning

Siang hari yang sama seperti biasanya, dengan jalanan yang sama dan aktivitas yang sama. Aku bosan. Hariku selalu sama saja dengan biasanya, tak ada hal yang menarik satupun. Terkadang aku ingin mencoba menjadi orang lain. Menjalani kehidupan yang berbeda, menjalani kehidupan yang tak lagi monotone.

“Haaahh,. Tapi mana bisa? Memangnya ini dongeng yang bisa dengan mudah berharap hal-hal aneh kemudian akan dikabulkan?” ucapku dalam hati sambil sedikit tertawa.

Teman-temanku pun begitu. Rasanya aku mulai bosan berteman dengan orang-orang yang sama. Aku peduli pada mereka, aku sayang mereka dan mereka pun begitu padaku. Tapi entahlah, terkadang aku merasa bosan dengan mereka.

Suatu hari aku mencoba hal lain. Sebenarnya hanyalah hal kecil, tapi apa salahnya dicoba. Siapa tahu dengan begitu aku menemukan hal baru yang menarik. Aku mencoba melalui jalanan yang berbeda. Biasanya aku selalu melewati jalanan perumahan ketika berangkat dari rumah ke kampus. Tapi hari itu aku mencoba melewati jalan raya yang cukup ramai dengan berbagai macam kendaraan.

Jarak kedua jalanan itu sebenarnya tak terlalu berbeda. Hanya saja jika melewati jalan raya aku harus melewati tiga tikungan, sedangkan jika melewati perumahan aku hanya perlu melewati satu tikungan.

[PART 5 - LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 5 – LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Diantara ramainya kafe yang berada tak jauh dari kosanku, kita terdiam. Sebuah kentang goreng dan dua gelas jus jeruk menjadi saksi bisu keheningan kita saat itu.

“Gimana kabar kamu Okta?” ucap Pak Hendra memecah keheningan antara aku dan beliau.

“Alhamdulillah baik Pak” balasku.

“Kenapa beberapa hari ini nggak masuk?” balas Pak Hendra dengan pertanyaan selanjutnya.

“Ehm iya Pak, agak nggak enak badan beberapa hari ini” ucapku menutupi kenyataan yang sebenarnya.

“Oh gitu. Tapi sekarang uda mendingan kan? Atau masih nggak enak badan?”

“Sekarang uda membaik kok Pak”

“Ok langsung aja ke intinya ya. Maaf sebelumnya karena belakangan saya sering menghubungi kamu. Itu karena memang ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan kamu dari terakhir kali kamu ikut kelas saya. Yang waktu kamu minta ijin karena sakit perut”

Beliau terdiam sejenak dengan tangan mengambil sebuah buku catatan berukuran seperti buku tulis pada umumnya, kemudian beliau mengambil sebuah kertas kecil yang diletakkan tepat di belakang sampul buku tersebut.

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Oke, pertemuan kali ini saya sudahi dulu. Terimakasih, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap Pak Hendra ketika menutup pertemuan hari itu.

Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas. Aku selalu keluar terakhir karena aku malas jika keluar duluan ketika mahasiswa lain masih duduk ataupun sedang membereskan barang mereka. Seakan membuat aku menjadi pusat perhatian, meskipun sebenarnya tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan suasana seperti itu.

“Tunggu sebentar Okta” ucap Pak Hendra memangggilku yang sedang berjalan menuju pintu.

“Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku yang kebingungan saat Pak Hendra memanggilku.

Suasana kelas mulai sepi, hanya ada Pak Hendra, aku, asisten dosen dan tiga mahasiswa lainnya yang masih sibuk membereskan barang mereka.

Triingg Triingg Triingg

“Sebentar ya Okta, saya angkat telfon dulu” ucap Pak Hendra sambil mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

“Oke pak” ucapku.