Surat Terakhir Untukmu

[Surat Cinta untuk Evan] Surat Terakhir Untukmu

“Surat Terakhir Untukmu”

Sabtu, 10 Februari 2018

 

Sejak pertemuan kita hari itu, rasanya aku bahkan masih tak bisa menghapus perasaan ini.

Kamu sudah menyakitiku, tapi kenapa aku masih bertahan?

Bodoh ya aku hehehe.

Kamu saja tak menganggapku teman, Evan. Segitu nggak pentingnya ya aku? hehehe.

Dan beberapa hari yang lalu aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini sebagai surat terakhir untukmu.

Ya, aku tak akan lagi mengirimkan surat yang tak berguna ini.

Untuk apa aku menulis surat pada orang yang bahkan tak menganggapku sebagai teman?

Menyakitkan.

Dalam surat terakhir ini aku ingin berterimakasih atas kehadiranmu yang meski telah menyakitiku.

Terimakasih karena kamu telah menjadi bagian dari kisahku. Meski tak berakhir bahagia, tapi biarlah ini menjadi kenangan untukku, menjadi cerita untukku di masa depan.

Seketika aku teringat bagaimana kedekatan kita bermulai.

Ingatkah kamu dengan permainan TOD ( True Or Dare ) yang kita lakukan beberapa hari setelah aku duduk di sebelahmu untuk pertama kalinya?

Sejak saat itu lah, rasa canggung yang awalnya muncul padaku karena tak begitu mengenalmu hilang begitu saja.

Sesimpel karena kamu dan aku memiliki keinginan yang sama, memiliki impian yang sama.

“Berusaha menjadi lebih baik demi orang yang kita sayangi, terutama orang tua”.

Saat itu aku menyadari bahwa kita sedang berada di jalan yang sama. Kita sama-sama sedang berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik demi orang yang kita sayang.

Kemudian tanpa sadar aku ingin terus berjuang bersamamu.

Awalnya aku tak pernah berpikir sedikitpun akan mencintaimu.

Aku terus menolak perasaan aneh dalam diriku yang semakin hari semakin menjadi.

Sampai akhirnya terjadilah kejadian saat di Bali, saat dimana kita memulai keheningan itu.

Hatiku sakit.

Dan aku baru menyadari bahwa aku telah jatuh cukup dalam pada perasaan yang tak seharusnya ada.

Perasaan yang harusnya tak boleh tumbuh dengan mudahnya.

Perasaan bahwa aku mencintaimu.

Aku yang saat itu dengan jelas mengetahui bahwa kamu telah memiliki pacar, dengan bodohnya jatuh cinta padamu.

Hahahahaha lucu ya.

Aku seperti menggali lubang kesengsaraanku sendiri.

Sudah tau kamu milik orang, tapi aku masih saja jatuh hati.

Maaf ya, karena mungkin aku sudah mengusik hidup bahagiamu.

Aku minta maaf karena telah mencintaimu.

Dari kejauhan aku mendoakan kebahagiaanmu. Kuharap kamu selalu bahagia.

Maaf dan terimakasih atas semuanya.

 

 

 

From The Deepest of My Hearth,

Via.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *