[Surat Cinta untuk Evan] Rasa yang Tak Pernah Hilang

[Surat Cinta untuk Evan] Rasa yang Tak Pernah Hilang

“Rasa yang Tak Pernah Hilang”

Sabtu, 9 Desember 2017

 

Hi Evan,.

Bagaimana kabarmu?

Masih ingatkah kamu denganku?

Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kita saling berkomunikasi. Ada begitu banyak hal yang terjadi saat kita tak lagi menjalin komunikasi. Apakah kamu penasaran?

Tapi aku takkan menceritakan semuanya, maaf. Aku hanya akan menceritakan semuanya jika kita memang ditakdirkan bersama. Tapi apakah itu mungkin? Entahlah, aku hanya bisa berdoa dalam setiap ibadahku agar didekatkan dengan jodohku yang entah siapa. Mungkinkah itu kamu? Jika boleh berharap mungkin jawabannya adalah iya.

Mungkin surat ini memang sedikit mengejutkan setelah kita bertahun-tahun tidak berkomunikasi.

Ini bukan sekedar surat biasa Evan, ini adalah surat tulus yang tertulis atas hati yang berbicara.

Setelah bertahun-tahun tak berkomunikasi denganmu, aku hampir melupakanmu. Aku bersyukur atas hal itu. Karena bagiku melupakanmu beberapa tahun yang lalu itu adalah sebuah hal berat. Sampai akhirnya aku berhasil melupakanmu, meski tak sepenuhnya.

Aku hanya mampu tak memikirkanmu setiap hari, tak lagi pusing akan hatimu yang tak jatuh pada hatiku. Tapi, dalam hati terkecilku, perasaan itu masih ada. Seakan tak mau pergi, perasaan itu sesekali masih menghantuiku. Ini seperti aku telah kecanduan akan sebuah perasaan satu arah, dimana aku tahu kamu tak mungkin datang ke arahku.

Menyakitkan memang, tapi mau bagaimana lagi jika memang itu jalannya?

Evan, mau tahukah kamu bagaimana kini akhirnya aku menyadari keberadaan perasaan yang tak pernah hilang itu?

Oke, aku akan sedikit bercerita meski aku tahu mungkin kamu tak begitu peduli atas cerita ini.

Sebenarnya sejak kita terakhir kali berkomunikasi, aku tanpa sadar sesekali memikirkanmu. Tapi aku tak pernah menyadari itu karena pikiran yang kufokuskan pada pekerjaan serta kuliahku sebagai usaha untuk benar-benar melupakanmu.

Sampai akhirnya beberapa bulan yang lalu ketika aku sedang mencari-cari gelang lamaku di kamar kos, sambil mendengarkan lagu-lagu favoritku, tiba-tiba saja pikiran ini dipenuhi olehmu ketika aku menemukan sebuah gelang yang menyimpan banyak kenangan denganmu.

Saat itu juga aku mulai mencari-cari kabarmu. Aku melihat-lihat semua sosial mediamu, hanya sekedar untuk mengetahui bagaimana kabarmu saat ini.

Lalu, tanpa sadar air mata jatuh dari kedua bola mataku.

“Hah? Apa-apaan ini?” pikirku dalam hati.

Bagaimana bisa aku menangis atas hal itu setelah apa yang aku alami selama ini?

“Apa-apaan ini? Kenapa hatiku masih sakit? Kenapa aku masih tak bisa mengontrol detak jantungku? Kenapa seperti ini?” pikirku dalam hati.

Air mataku semakin tak terbendung. Tangisanku semakin histeris. Entahlah, aku tak tahu lagi apa yang terjadi padaku saat itu.

Yang kutahu saat itu aku hanya memikirkanmu sepenuhnya.

Hari-hariku berbeda setelah tangisan itu.

Aku sering memimpikanmu.

Aku sering memikirkanmu.

Berbedanya, saat ini aku telah mampu mengontrolnya dengan mengimbangi antara pikiran tersebut dan kesibukanku.

Karena hanya dengan cara itulah aku masih mampu merasakan perasaan ini tanpa harus menangis setiap saat.

Namun, ada kalanya aku tak mampu membendung perasaan itu. Ada kalanya aku tetap menangis meski telah kucoba untuk berhenti.

Evan, tahukah kamu bagaimana sulitnya aku menyimpan perasaan ini??

Aku juga tak habis pikir dengan diriku sendiri. Kenapa setelah bertahun-tahun berusaha melupakanmu, hasil yang kudapatkan hanyalah kemampuan mengontrol perasaan ini. Bukannya melupakanmu sepenuhnya.

“Lalu untuk apa surat ini kamu tulis?”

“Apakah kamu masih berharap atas hatiku?”

Mungkin itu pertanyaan yang muncul dalam benakmu saat ini ya Evan? hehehe

Jawabannya adalah aku tidak tahu.

Aku pun tak mengerti kenapa tanganku menuliskan surat ini meskipun aku dengan yakin mengetahui bahwa surat ini tak mungkin sampai ke tanganmu.

Kenapa?

Karena aku tak lagi tahu dimana keberadaanmu saat ini. Oke, aku tahu kamu masih di Indonesia. Tapi dimana alamatmu Evan? Aku tak tahu itu.

Jadi, kuputuskan tetap menulis surat ini untuk memenuhi keinginan hati kecilku, lalu kulipat menjadi perahu kecil dan kualirkan dimanapun aku menemukan sebuah aliran air.

Siapa tahu suatu saat akan ada keajaiban?

Mungkin bukan kamu yang akan menjawab suratku, mungkin Tuhan yang akan memberiku jawaban?

Tenang, aku takkan membuang banyak kertas. Karena aku hanya akan menuliskan ini disetiap hari Sabtu. Sebab hanya saat itulah aku memiliki waktu kosong terbebas dari pekerjaan maupun kuliahku.

Untuk hari ini cukup segini yah suratku.

Aku harap kamu selalu dalam lindungan Tuhan dan selalu dalam keadaan baik.

 

From The Deepest of My Hearth,

Via.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *