[PART 5 - LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 5 – LAST] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Diantara ramainya kafe yang berada tak jauh dari kosanku, kita terdiam. Sebuah kentang goreng dan dua gelas jus jeruk menjadi saksi bisu keheningan kita saat itu.

“Gimana kabar kamu Okta?” ucap Pak Hendra memecah keheningan antara aku dan beliau.

“Alhamdulillah baik Pak” balasku.

“Kenapa beberapa hari ini nggak masuk?” balas Pak Hendra dengan pertanyaan selanjutnya.

“Ehm iya Pak, agak nggak enak badan beberapa hari ini” ucapku menutupi kenyataan yang sebenarnya.

“Oh gitu. Tapi sekarang uda mendingan kan? Atau masih nggak enak badan?”

“Sekarang uda membaik kok Pak”

“Ok langsung aja ke intinya ya. Maaf sebelumnya karena belakangan saya sering menghubungi kamu. Itu karena memang ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan kamu dari terakhir kali kamu ikut kelas saya. Yang waktu kamu minta ijin karena sakit perut”

Beliau terdiam sejenak dengan tangan mengambil sebuah buku catatan berukuran seperti buku tulis pada umumnya, kemudian beliau mengambil sebuah kertas kecil yang diletakkan tepat di belakang sampul buku tersebut.

“Kamu mengenali kertas ini nggak?” tanya beliau sambil menjulurkan kertas tersebut tepat berada di depanku.

Terlihat sebuah kertas yang memang rasanya tak asing bagiku. Kertas itu kosong, tidak ada tulisan apapun diatasnya. Namun ketika kubalikkan kertas tersebut, terlihat sebuah kalimat yang selalu terngiang dibenakku. Sebuah kalimat yang bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”.  Ya, tidak salah lagi. Ini adalah kertas itu! Kertas yang kutemukan tiga bulan lalu, namun hilang begitu saja tanpa kusadari.

“Ini, kok bisa ada di Pak Hendra?” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

“Ini kertas saya Okta. Saya yang tulis kalimat itu” ucap beliau dengan penuh ketegasan.

Saat itu juga aku terdiam sejenak.

“Gimana Pak Hendra bisa tau kalau itu punya Pak Hendra? Di kertas itu sama sekali nggak tertulis ciri-ciri pemiliknya” tanyaku dengan penuh rasa tidak percaya atas apa yang baru saja Pak Hendra katakan.

Tanpa berkata-kata, Pak Hendra langsung membuka beberapa lembar dari buku catatan beliau dan berhenti pada sebuah lembar catatan yang tidak utuh.

“Coba kamu perhatikan. Potongan ini cocok jika disambungkan dengan lembar ini” ucap beliau sambil meletakkan potongan kertas itu dengan lembar yang tidak utuh tersebut.

Aku melihat lembar tersebut dengan seksama. Potongan kertas itu benar-benar cocok jika digabungkan dengan lembar tersebut. Tanpa sadar aku membaca semua kata yang tertulis dalam lembar tersebut.

***

Ditengah keramaian kelas, aku melihatmu

Duduk manis dengan pakaian yang tertutup

Senyum manismu terlihat semakin bersinar dengan balutan kerudung biru muda yang kamu kenakan

Aku penasaran akan sosokmu

Tapi aku tak tahu siapa namamu

Mungkinkah kita akan bertemu lagi?

Aku harap begitu

Tapi aku tak mau terlalu berharap

Aku takut rasa penasaran ini membawaku pada jalan yang salah

Jadi, biar kutitipkan rasa penasaran ini pada Sang Pencipta

Sejujurnya aku tak mengerti rasa penasaran macam apa ini

Tapi ijinkan aku mengatakan satu kalimat yang terlintas dalam hatiku saat melihatmu

Yaitu “Aku mencintaimu karena Allah”

***

Aku terkejut. Dalam beberapa menit aku terdiam. Rupanya kertas yang selama ini menjadi wallpaper ponselku adalah potongan kalimat dari semua kalimat yang tertulis dalam lembar tersebut. Sebuah lembar yang ternyata adalah bagian dari buku catatan milik Pak Hendra.

“Ah rasanya sakit hati itu seperti akan muncul kembali” ucapku sambil mengelus dada. Entah kenapa rasanya sedikit menyakitkan, meski masih mampu aku menahannya.

“Ehm, iya Pak saya percaya kalau itu kertas milik Pak Hendra” ucapku dengan nada sedikit lemas.

“Kamu tahu Okta, kapan saya menulis kalimat-kalimat ini?” tanya beliau dengan senyum dan pipi yang sedikit memerah.

“Memangnya kapan Pak?”

“Tepat tiga hari sebelum saya mengajar di kelas kamu” ucap beliau dengan tegas dan mata yang terlihat berbinar-binar.

Aku terdiam. Aku tak tahu harus membalas dengan ucapan apa.

“Saya tulis itu semua malam hari. Ketika saya terbangun untuk sholat tahajud. Saat itu saya baru saja memimpikan seorang perempuan yang tak terlihat jelas wajahnya, namun saya mampu melihat senyum manis serta warna kerudungnya. Tanpa sadar saya merasakan hal yang aneh. Dan jadilah semua rasa itu saya tuliskan dilembar itu. Lalu, kamu ingat saat kita pertama kali saling melihat? Saat saya panggil nama kamu waktu absen? Entah kamu sadar atau enggak, saat itu saya memperhatikan kamu. Karena senyum dan warna kerudung kamu sama persis dengan perempuan yang ada dalam mimpi saya. Dan saya juga merasakan perasaan yang sama seperti ketika saya melihat perempuan dalam mimpi saya. Tapi saya tidak tahu harus berbuat seperti apa, saya masih belum benar-benar yakin. Seperti ada hal lain yang harus saya selidiki sampai saya benar-benar yakin”

Beliau berhenti berbicara sejenak sambil meminum jus jeruk milik beliau. Aku hanya terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku bingung. Hatiku rasanya bergetar, tapi dilain sisi aku teringat cincin yang digunakan oleh Pak Hendra.

“Ya Allah, kenapa hati ini harus bergetar seperti ini?” ucapku dalam hati.

“Ehm maaf Pak. Kalau boleh tahu memangnya apa yang mau Pak Hendra yakinkan?” tanyaku pada beliau yang baru saja meletakkan jus jeruk dari tangan beliau ke atas meja.

“Saya juga nggak tahu. Saya cuma merasa masih ada yang kurang. Saya merasa ada yang perlu saya yakinkan lagi, tapi saya tidak tahu apa itu. Sehari setelah saya tulis, lembar itu disobek keponakan saya. Tapi saya nggak pernah sadar kalau potongan kertas itu hilang. Sampai ketika saya melihat kertas itu jatuh dari buku kamu saat kamu keluar kelas dan saya merasa tidak asing dengan kertas tersebut. Reflek saya buka lembar yang saya tulis itu dan ternyata cocok. Saat itu keyakinan saya bertambah, tapi masih belum sepenuhnya. Kemudian ketika saya pinjam hp kamu untuk cari hp saya, waktu itu saya lihat wallpaper hp kamu yang ternyata foto dari kertas itu. Lalu saat itu juga saya benar-benar yakin. Saya yakin kalau kamu memang perempuan itu. Saya yakin kalau kamu adalah perempuan yang harus saya khitbah” ucap beliau dengan mata yang berbinar dan pipi yang memerah.

Detik itu juga aku seakan membisu. Ini sangat membingungkan. Bagaimana bisa seseorang yang telah beristri mampu berkata seperti itu pada perempuan lain. Apa beliau berniat untuk poligami?

“Saya bingung Pak. Kenapa Pak Hendra bicara seperti itu? Bukannya Pak Hendra sudah beristri? Sudah punya anak juga” tanyaku dengan perasaan campur aduk yang tak lagi mampu kudefinisikan.

“Beristri? Sudah punya anak? Kamu dapat info itu darimana Okta?” tanya beliau dengan ekspresi wajah yang penuh dengan kebingungan.

“Cincin di jari manis Pak Hendra? Dan waktu saya ijin karena sakit perut, waktu itu Pak Hendra lagi telfonan sama anak Pak Hendra kan?”

“Cincin? Oh ini?” ucap beliau sambil menunjukkan cincin yang selalu ada di jari manis beliau.

“Cincin ini pemberian dari almarhum kakak saya. Dulu waktu saya masih belum benar-benar terima akan kepergian kakak, saya selalu pakai cincin ini untuk mengingat dia. Setelah saya sudah benar-benar merelakan kepergian kakak, saya jadi terbiasa pakai cincin ini” lanjut beliau dengan tersenyum.

“Ehhmm berarti . . . ” ucapku dengan sedikit terbata-bata.

“Berarti ya saya belum menikah hehehe. Ohya soal telfon sama anak, itu bukan anak saya. Waktu itu saya lagi telfonan sama keponakan saya. Anaknya adik saya, dan yang saya maksud mama itu ya mamanya keponakan saya, yaitu adik saya hehehe” ucap beliau dengan senyum dan sedikit tertawa nakal.

“Ooohh gitu Pak hehehe” ucapku dengan terbata-bata.

Saat itu juga, hati ini merasa sangat lega. Rupanya selama ini aku telah salah paham. Memang tak pernah ada pernyataan nyata bahwa Pak Hendra telah beristri. Dari awal akulah yang telah membuat kesimpulan sendiri. Aku tersenyum tipis tiada henti. Hatiku yang sebelumnya masih merasakan sakit, kini benar-benar telah disembuhkan.

“Jadi, gimana Okta?” tanya Pak Hendra dengan tersenyum.

“Apanya yang gimana ya Pak?”

“Saya mau datang ke rumah kamu. Saya mau mengkhitbah kamu” ucap beliau dengan pipi yang memerah.

“Ehm,. Iya silahkan Pak. Nanti saya bicara dulu ke orang tua. Setelah itu baru saya kabarin Pak Hendra lagi ya” ucapku dengan dengan senyum dan pipi yang memerah bagai kepiting rebus.

“Terimakasih Okta. Saya tunggu kabar selanjutnya ya” ucap beliau lengkap dengan pipi yang memerah.

Hari itu kami menutup malam dengan senyuman terindah kami. Lampu kafe terasa semakin bersinar, seolah mengerti apa yang sedang kami rasakan.

***

Dua tahun kemudian . . .

***

“Ooohh jadi kamu bohong ya soal nggak masuk karena sakit itu?”

“Hehehehe,. ya maaf Pak Hendra. Kan demi menutupi kegalauan. Lagian waktu aku bilang gitu kan aku belum tahu cerita detail dari sisi kamu. Jadi wajar dong kalau aku jawab gitu”

“Ehem,. kamu panggil aku apa barusan ya?”

“Eh iya salah,. Kebawa cerita sih hehehe,. Maksudnya itu masku sayang hehehe” ucapku sambil memeluk Mas Hendra.

“Hhmm ternyata mama kamu ini sudah kagum sama ayah dari awal ya nak,. Ayah jadi malu hehehe” ucap Mas Hendra sambil mengusap perutku yang dalam keadaan besar karena sedang hamil tujuh bulan.

“Loh nggak bisa gitu dong, mas kan juga uda kagum sejak awal ketemu aku. Bahkan mas sudah mimpiin aku sebelum kita ketemu. Hayoo” ucapku yang tak mau kalah.

“Mimpi itu petunjuk dari Allah sayang. Oke berarti kita satu sama ya. Karena kita sama-sama tanpa sadar telah saling mengagumi satu sama lain sejak awal ketemu”

“Iya mas”

Saat itu juga, di sofa tepat didepan tembok yang tergantung dua buah foto penikahan kami serta sebuah bingkai kecil berisi potongan kertas bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”, sambil mengelus perutku, Mas Hendra memeluk dan mencium keningku.

Terimakasih Tuhan atas jalan indah yang telah Engkau berikan kepada kami.

 

 

——— SELESAI ———

  • Red Shade

    ceritanya menarik kak, lanjutin dunk ceritanya, biar betah bacanya <3

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *