[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 4] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Oke, pertemuan kali ini saya sudahi dulu. Terimakasih, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” ucap Pak Hendra ketika menutup pertemuan hari itu.

Satu per satu mahasiswa meninggalkan kelas. Aku selalu keluar terakhir karena aku malas jika keluar duluan ketika mahasiswa lain masih duduk ataupun sedang membereskan barang mereka. Seakan membuat aku menjadi pusat perhatian, meskipun sebenarnya tidak. Aku hanya tidak nyaman dengan suasana seperti itu.

“Tunggu sebentar Okta” ucap Pak Hendra memangggilku yang sedang berjalan menuju pintu.

“Iya Pak, ada apa ya?” tanyaku yang kebingungan saat Pak Hendra memanggilku.

Suasana kelas mulai sepi, hanya ada Pak Hendra, aku, asisten dosen dan tiga mahasiswa lainnya yang masih sibuk membereskan barang mereka.

Triingg Triingg Triingg

“Sebentar ya Okta, saya angkat telfon dulu” ucap Pak Hendra sambil mengambil ponsel yang ada di saku celananya.

“Oke pak” ucapku.

Aku duduk di kursi paling depan, menunggu Pak Hendra yang sedang mengangkat telepon sambil duduk di meja dosen. Posisi antara kursi yang kududuki dengan meja dosen yang cukup dekat membuatku mampu dengan jelas mendengar setiap kata yang dikatakan Pak Hendra, terlebih lagi beliau sama sekali tidak mengecilkan suara beliau ketika berbicara sehingga semakin jelas apapun itu yang ia katakan.

Sambil menunggu aku sibuk memainkan ponselku. Yang tersisa di dalam kelas hanya aku dan Pak Hendra. Tiga mahasiswa yang sebelumnya telah keluar kelas, dan asistem dosen juga telah berpamitan dengan Pak Hendra.

“Iya iya, hari ini pulang cepet kok. Nanti dibawain martabak juga. Uda adek sekarang mainnya berhenti dulu ya, kasihan mama uda nungguin dari tadi buat nemenin adek belajar”

Diantara keheningan kelas yang hanya terdapat dua orang didalamnya, terdengar kalimat tersebut dengan jelas di telingaku. Meski hanya beberapa kalimat, entah kenapa mampu membuat hati ini begitu hancur. Kenapa harus seperti ini? Aku tahu perasaan ini dari awal memang telah salah, dan aku memang sudah siap akan resikonya. Tapi kenapa? Kenapa kali ini rasanya begitu sakit sampai aku tak lagi mampu menahannya.

Mataku mulai berkaca-kaca hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata. Sesegera mungkin kuhapus air mata tersebut agar tak terlihat oleh Pak Hendra.

“Maaf ya Okta jadi nunggu lama. Tadi saya ditelfon . . . ”

Belum selesai Pak Hendra berbicara, tanpa sadar aku memotong kalimatnya.

“Ehhmm maaf Pak saya permisi ya Pak, tiba-tiba perut saya sakit. Maaf Pak, permisi” ucapku dengan tegas kemudian bergegas berjalan menuju pintu.

“Loh sebentar Okta, saya belum bicara apa-apa. Sebentar saja” ucap Pak Hendra yang berusaha menahanku.

“Maaf Pak, perut saya sakit banget. Kalau penting banget nanti bisa telfon atau chat saja ya Pak. Sekali lagi saya mohon maaf Pak, permisi” ucapku sambil segera berjalan menuju pintu dan meninggalkan kelas.

Sejak hari itu aku tak lagi mau menghadiri kelas Pak Hendra. Mungkin lebih tepatnya sejak hari itu aku tak datang ke kampus selama beberapa hari. Aku takut bertemu Pak Hendra, aku takut perasaan itu semakin kuat, aku takut hati ini semakin sakit.

Namun sejak hari itu pula, Pak Hendra cukup sering menghubungiku baik itu melalui telepon maupun chat. Tapi selama itu pula tiada satupun yang aku tanggapi. Selama beberapa hari itu aku mengubah mode pada ponselku menjadi mode diam, sehingga aku tak terganggu oleh notifikasi yang muncul dari ponselku.

Inti dari semua chat yang dikirimkan Pak Hendra adalah:

“Okta, kenapa nggak diangkat telfonnya?”

“Hari ini kamu nggak masuk ya Okta? Kenapa? Masih sakit?”

Dalam satu hari ada sekitar satu sampai tiga telepon serta lima sampai tujuh chat dari Pak Hendra.

“Kenapa? Kenapa seperti ini? Kenapa harus menghubungiku sebanyak ini? Apa aku punya hutang tugas? Dosen lain bahkan tak pernah seniat ini jika ada mahasiswanya yang hutangg tugas. Kenapa Pak Hendra seniat ini sih? Tolong Pak, jangan buat aku salah paham” ucapku dalam hati sambil melihat wallpaper ponselku yang merupakan foto kertas misteriusku. Sebuah kertas yang selalu aku simpan erat dalam buku harianku, namun entah kenapa dengan mudahnya hilang begitu saja tanpa jejak. Beruntung aku sempat memotretnya beberapa kali, sehingga rasa rinduku pada kertas tersebut mampu terobati meski hanya sedikit.

Entah kenapa, aku mampu merasakan ketulusan dari kertas tersebut. Seakan mampu menamparku bahwa sebagai manusia aku hanya boleh mencintai Tuhanku, Allah SWT. Bukannya justru jatuh cinta pada manusia yang hanya ciptaan-Nya. Jika pun aku boleh mencinta, aku hanya boleh mencintai makhluk tersebut melalui sang Pencipta. Bukannya jatuh hati terlalu dalam pada makhluk tersebut.

“Astagfirullah hal-adzim” ucapku berkali-kali dalam hati.

Tanpa sadar air mataku mengalir dan tak mau berhenti. Hatiku sakit saat kemarin mendengar langsung bagaimana Pak Hendra berbicara dengan anaknya. Aku tahu dari awal memang inilah resiko yang akan kualami, merasakan sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan yang kubuat sendiri. Tapi aku terlalu sombong, aku sok kuat, aku sok tahu, dengan mudah aku sok sok-an yakin bahwa aku akan baik-baik saja meski hati ini sakit.

“Hahaha tapi apa Okta? Kamu sok sok-an sih! Sekarang uda ngerasain seberapa kuat sakitnya kan? Tahu rasa deh!” ucapku dalam hati.

Entah sejak kapan aku mulai jatuh hati, entah sejak kapan perasaan ini semakin dalam, semua terjadi begitu cepat. Apakah aku memang telah menyimpan hati pada beliau sejak pertemuan pertama kita? Aku tidak tahu, yang kutahu kini aku merasakan sakit hati yang begitu menyakitkan.

“Astagfirullah hal-adzim. Maafkan aku ya Allah. Maaf karena aku telah khilaf mencintai makhluk yang engkau ciptakan. Jika boleh memohon, hamba mohon disembuhkan dari rasa sakit ini dan ijinkan hamba bertaubat ya Allah” ucapku dalam hati, memohon ampunan kepada Tuhanku atas kesalahan yang telah kulakukan.

Aku berusaha menenangkan diri dengan mengucap istighfar sebanyak mungkin.

Setelah sekitar tiga puluh menit, aku mulai merasa tenang. Rasa sakit itu entah kenapa aku merasa perlahan mulai pergi. Sambil memandang wallpaper ponselku, aku berkata dalam hati:

“Ya, kamu benar kertas. Aku hanya boleh mencintainya karena Allah. Bukannya mencintai dengan sangat dalam sampai lupa bahwa hanya Allah lah yang boleh aku cintai. Biarlah perasaan ini aku titipkan pada Allah. Dan sudah seharusnya aku menghapus rasa sakit ini sejak awal”

Aku mengusap kedua bola mataku yang masih basah karena air mata, kemudian bergegas mencuci muka serta mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat ashar.

Setelah sholat ashar aku pergi keluar membeli makanan. Biasanya aku selalu masak sendiri jika sedang di kosan. Tapi hari itu persediaan bahanku memang sudah habis, jadi aku perlu beli makan di luar sambil membeli beberapa camilan yang mulai menipis. Aku membeli makan di warung lalapan langgananku dan membeli beberapa camilan di minimarket yang posisinya tepat di depan lalapan langgananku itu. Setelah kebutuhan perut terpenuhi, aku pun segera pulang ke kosan.

Aku berjalan dengan tenang seolah tiada hal berat yang kulalui. Meskipun rasa sakit itu masih tersisa, meskipun mata ini masih terlihat sembab, tapi aku sudah mulai tenang. Karena semua telah kuserahkan pada sang Pencipta yang Maha membolak balikkan hati manusia. Sampai di depan kosan, aku melihat sebuah mobil yang tak asing, tapi aku tak mampu mengingat mobil milik siapa itu. Aku hanya samar-samar mengenali mobil tersebut.

“Ah paling juga tamunya mbak kos yang biasanya itu” ucapku dalam hati.

Namun, langkahku terhenti ketika aku baru saja membuka gerbang kosan dan melihat seseorang yang kukenal sedang duduk diam di teras kosan. Suara gerbang terbuka yang cukup keras membuat dia akhirnya mengarahkan pandangannya padaku. Mata kami saling bertatapan. Aku dan orang tersebut hanya terdiam selama beberapa menit. Aku tak menyangka orang tersebut akan datang ke kosan.

“Pak Hendra?” ucapku sambil sedikit bertanya. Aku tak menyangka beliau sampai datang ke kosan.

“Iya Okta, bisa ngobrol sebentar?” ucap Pak Hendra dengan nada yang begitu lemah lembut.

“Ehm maaf Pak, kayaknya dompet saya ketinggalan di minimarket. Saya permisi dulu ya” ucapku sambil membalikkan badan.

“Tunggu dulu Okta. Tolong jangan bohong. Saya jelas-jelas lihat dompet ada di tangan kamu. Saya mau ngomong penting banget” ucap beliau dengan lemah lembut namun penuh ketegasan.

Kulihat tanganku yang sedang memegang dompet dan kubalikkan badanku kembali menghadap Pak Hendra. Dengan malu aku menjawab:

“Ehm iya Pak, maaf”

“Tolong masuk ke mobil saya ya. Kita ngobrol di kafe aja, supaya lebih nyaman” ucap Pak Hendra sambil berjalan menuju mobil.

 

Ketika aku telah mampu menyerahkan perasaan ini seutuhnya kepada sang Pencipta, kenapa Pak Hendra justru datang dan memberiku sebuah tanda tanya besar? Hal penting? Hal penting apa yang harus dibicarakan sampai Pak Hendra seniat itu?

 

——— PART 4 – SELESAI ———

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *