[Part 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Satu minggu setelah hari pengumuman itu, kami berkumpul lagi untuk membahas perkembangan acara yang sedang direncanakan. Dan tentu saja lagi-lagi aku bertemu dengan beliau. Semua anggota berdiskusi dengan sangat serius, aku pun melakukan hal yang sama. Sekitar lima jam kemudian diskusi pun kita tutup karena waktu yang telah cukup malam. Aku pun mengemas barang-barangku dan berpamitan dengan anggota lainnya, begitu pula dengan Pak Hendra.

“Pak Hendra saya pamit pulang dulu ya pak, terimakasih atas bantuannya hari ini” ucapku dengan penuh rasa hormat sambil menahan rasa aneh yang masih saja bergejolak dalam hatiku.

“Oh oke Okta. Hati-hati di jalan ya” ucap beliau.

“Iya Pak” ucapku sambil perlahan memalingkan badan dan berjalan menjauh dari Pak Hendra.

Namun, belum jauh rasanya aku berjalan tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dari belakang.

“Okta tunggu sebentar” panggil orang tersebut yang ternyata adalah Pak Hendra.

“Ada apa ya Pak?” tanyaku.

“Saya boleh pinjem hp kamu nggak? Saya lupa naruh hp saya dimana” kata beliau.

“Oh ehm iya boleh pak” balasku sambil mengulurkan hp ku pada beliau.

Pak Hendra mengetikkan nomor hp nya dan menelepon untuk mencari tahu posisi hp nya. Dan terdengarlah suara dari dalam tas Pak Hendra dengan hp yang tertutupi oleh barang-barang di tas beliau.

“Nah ini dia” ucap beliau sambil mematikan panggilan di hp ku.

“Makasi ya Okta” ucap beliau sambil mengulurkan hp ku dan tersenyum.

“Iya Pak, sama-sama. Yasudah kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Pak” ucapku yang tak sanggup lagi jika harus berlama-lamaan berada di dekat Pak Hendra.

“Sebentar Okta, kamu pulang naik apa? Kosan kamu jauh kan kalau nggak salah?”

“Naik transjakarta Pak”

“Ini uda malam, emang nggak masalah naik transjakarta?”

“Nggak masalah Pak, biasanya juga begitu hehehe” ucapku sambil memberikan sedikit tawa.

“Saya antar aja bagaimana? Kebetulan hari ini saya bawa mobil jadi nggak perlu pusing mikirin helmnya”

“Oh nggak usah Pak, ngerepotin banget. Saya uda biasa naik transjakarta kok Pak. Jadi nggak masalah”

“Iya tapi ini uda malam loh. Saya antar aja deh ya. Atau kamu mau nilai PBO saya kurangi? hehehe” ucap beliau sambil melontarkan tawa nakal karena sedikit mengancamku yang dengan keras kepala menolak tawarannya.

“Loh Pak kok bawa-bawa nilai PBO sih Pak? Kan nggak ada hubungannya”

“Ada dong, kan saya dosennya hehehe. Makanya saya antar aja, lagian nggak ngerepotin kok”

“Tapi Pak” ucapku yang masih sangat menolak tawarannya. Rasanya aku tak sanggup jika harus berdua saja dalam sebuah mobil dengan beliau. Harus seberapa kuat aku menahan rasa aneh ini??

“Hhmm bentar, saya mau nulis catatan dulu. Nama Okta kelas PBO nilai dikurangi 30. Oke noted” ucap beliau sambil membuka hp.

“Loh loh loh Pak. Yauda deh Pak, iya” ucapku yang terdesak akan tingkah Pak Hendra.

“Hehehe gitu dong” ucap beliau sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.

“Note nya dihapus ya Pak” ucapku dengan ekspresi memohon agar Pak Hendra menghapus note yang baru saja beliau tulis.

“Iya iya nanti dihapus hehehe” ucap Pak Hendra dengan senyum nakal itu.

“Yauda kalau gitu kamu tunggu sebentar ya, saya beresin barang-barang dulu”

“Oke Pak”

Aku menunggu di sebuah bangku kosong tepat di dekat pepohonan yang cukup rindang. Tak lama kemudian Pak Hendra keluar dan kami pun berjalan bersama menuju tempat parkir mobil khusus dosen. Pak Hendra membunyikan alarm mobil dan kami pun masuk melalui pintu masing-masing. Sudah pasti Pak Hendra duduk di kursi pengemudi sedangkan aku duduk di kursi penumpang tepat di sebelah Pak Hendra.

Aneh. Ini adalah kejadian yang cukup aneh bagiku. Bagaimana bisa Pak Hendra tiba-tiba dengan bersikeras mau mengantarku ke kosan? Kita bahkan tidak sedekat itu sebagai dosen dan mahasiswa. Rumah Pak Hendra pun tidak searah dengan kosanku, tapi kenapa beliau justru ingin mengantarku pulang?

Beruntung jalanan Jakarta yang kulewati malam itu tidak terlalu padat, hanya macet sebentar di beberapa titik sehingga aku tak perlu berlama-lama berada di dekat Pak Hendra. Tak sanggup rasanya jika harus berdua saja dengan seseorang yang telah menjadi suami orang lain.

Perjalanan kami ditempuh sekitar setengah jam. Saat sampai di depan kosan, aku pun langsung bergegas untuk turun dari mobil dan berpamitan dengan Pak Hendra.

“Ahh, apa-apaan hari ini. Kok bisa Pak Hendra tiba-tiba mau ngantar gitu ya? Ah paling juga karena tanggung jawab sebagai dosen aja. Iya iya, itu karena beliau dosen dan bertanggung jawab atas mahasiswanya. Oke jangan mikir yang aneh-aneh ya Okta. Hhhmm” gumamku saat masuk ke dalam kamar.

***

Dua bulan pun berlalu. Acara amal telah berhasil dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan apapun. Aku bersyukur tak lagi harus bertemu dengan Pak Hendra secara terus menerus. Memang tak sepenuhnya lepas, karena aku masih harus bertemu dengan beliau saat mata kuliah PBO, tapi setidaknya tidak sesering sebelumnya.

Selama persiapan hingga hari dilaksanakannya acara amal tersebut aku mengalami banyak hal aneh yang terjadi pada diri ini saat bersama dengan Pak Hendra. Aku tak pernah mampu menghentikan jantung ini yang terus berdebar kencang ketika berada dekat dengan beliau. Aku tak pernah sanggup mengontrol diri agar tidak salah tingkah ketika bersama dengan beliau.

Sikap beliau yang juga aneh semakin membuatku tak mampu mengontrol diri dan perasaan aneh ini. Sikap beliau padaku seakan bukan sikap sewajarnya oleh seorang dosen terhadap mahasiswanya. Satu hal yang selalu membuatku semakin jatuh pada beliau adalah sikap beliau yang selalu mengingatkanku untuk sholat. Memang hanya sekedar lontaran beberapa kata ketika kita bertemu, tidak setiap saat karena kami tak pernah melakukan komunikasi personal melalui media sosial maupun aplikasi chatting. Namun, lontaran beberapa kata itu entah kenapa mampu membuatku semakin jatuh pada beliau.

Hingga akhirnya aku menyadari bahwa “Aku telah jatuh cinta padanya”. Iya, tanpa sadar hati ini terus bergejolak tanpa henti. Aku seakan lupa bahwa beliau adalah orang yang telah beristri.

Lalu apa yang harus aku lakukan?

Entahlah. Aku hanya dapat menyimpan perasaan terlarang ini dengan rapat agar tiada seorang pun yang menyadarinya. Dalam hati aku selalu berusaha menguatkan diri dengan berdoa atas kenyataan yaitu “Ya Allah, aku mohon semoga Pak Hendra dan istrinya selalu menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah”.

Biarlah hanya aku yang merasakan sakit ini. Sebuah rasa sakit yang kubuat sendiri karena telah jatuh cinta pada orang yang telah beristri.

 

Apakah aku sanggup terus menyimpan perasaan ini tanpa merasakan sakit yang semakin mendalam? Mampukah aku tetap bersikap biasa pada Pak Hendra meski hati ini merasa sakit?

 

——— PART 3 – SELESAI ———

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *