[Part 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Pak Hendra, ini koding saya kok ngga jalan ya?” tanya seorang mahasiswa yang posisinya tepat disebelah kiriku.

Dengan sigap namun santai pak Hendra menghampiri mahasiswa tersebut, beliau periksa setiap kode dari baris satu hingga baris terakhir. Tanpa sadar aku sesekali memperhatikannya. Sesaat aku memperhatikan wajahnya, sesaat pula aku memperhatikan gerak gerik tubuhnya, termasuk gerak gerik tangannya. Namun, perasaan sedih dan kecewa menghampiriku ketika mata ini dengan jelas melihat sebuah cincin perak yang melingkar dengan indah di tangan kanan beliau. Cincin itu terlihat berkilau dan indah, seakan mendefinisikan perasaan nyata sang pemilik.

“Ah iya, umurnya sudah segitu, dia juga terlihat sangat taat agama. Sudah pasti dia akan menyegerakan sebuah pernikahan” ucapku dalam hati sambil memalingkan pandanganku kembali pada layar monitor.

Setelah itu aku tak lagi memperhatikan gerak geriknya. Hanya sesekali saja rasanya diri ini ingin memandang wajahnya meskipun hanya satu detik.

Pertemuan mata kuliah PBO hari itu pun selesai dan Pak Hendra mempersilahkan mahasiswa dan mahasiswinya untuk keluar dari kelas. Aku segera pergi memasukkan barang-barangku ke dalam tas dan bergegas keluar kelas. Aku tak mau berlama-lama di kelas tersebut. Entah kenapa berat rasanya jika harus berlama-lama melihat Pak Hendra dengan cincin peraknya.

Setelah selesai mata kuliah terakhir, aku selalu menyempatkan diri untuk ke perpustakaan kampus. Entah itu hanya sekedar untuk membaca buku secara acak maupun mengerjakan tugas kuliah. Aku melihat deretan buku pada bagian manajemen bisnis, kuambil salah satu diantaranya yang cukup menarik perhatianku baik itu karena sampulnya maupun judulnya. Aku memang cukup tertarik dengan dunia bisnis, jadi tak jarang jika aku mampir ke deretan buku manajemen bisnis.

Aku duduk di sebuah kursi dengan meja panjang tepat disamping kaca. Lokasi perpustakaan yang berada di lantai lima membuat pemandangan di dekat kaca menjadi lebih indah. Aku dapat melihat pepohonan di kampus dengan mobil-mobil berlalu-lalang di jalan tol yang lokasinya tak jauh dari kampus. Pemandangan inilah yang membuatku sangat betah berlama-lama di perpustakaan kampus.

Setelah merasa cukup lama berada di perpustakaan, biasanya aku ingin segera pulang. Namun, entah kenapa saat itu aku tidak ingin langsung pulang. Rasanya aku masih ingin berjalan-jalan sedikit di halaman maupun koridor kampus. Sampai ketika aku melihat sebuah kursi kosong tepat di depan ruang dosen, tanpa berpikir panjang aku langsung duduk di kursi tersebut. Kukeluarkan earphone kesayanganku dan kuhubungkan dengan ponselku. Sambil mendengarkan musik favorit, aku menikmati setiap angin yang terhembus saat itu. Rasanya begitu nyaman, begitu damai.

Namun, perlahan rasa damai itu memudar karena aku mendengar samar-samar suara sepatu seseorang yang berjalan menuju ke arahku. Tak kuhiraukan dentuman sepatu terbut, ku mainkan kembali lagu-lagu favoritku. Hingga seseorang dengan senyum indahnya melewati koridor didepanku sambil bertanya:

“Loh Okta belum pulang?” tanya Pak Hendra yang berdiri tepat didepanku.

“Belum Pak, lagi pengen duduk-duduk dulu di kampus hehehe” jawabku sambil melontarkan sebuah senyuman dan tawa kecil.

“Oh yauda kalau gitu saya duluan ya” lanjut beliau.

“Iya Pak” sahutku.

Setelah Pak Hendra melanjutkan langkah kakinya dan berjalan menjauhiku, tanpa sadar hati ini berbunga-bunga. Bagaimana bisa hanya dengan percakapan sesingkat itu aku bisa merasakan hal aneh seperti itu??

***

Keesokan harinya setelah selesai mata kuliah terakhir, tepat pukul satu siang aku dan anggota organisasi sosial masyarakat melakukan pertemuan karena adanya sebuah acara amal yang akan kita selenggarakan di akhir bulan depan. Sebuah acara amal penggalangan dana untuk membantu masyarakat yang tinggal di jalanan Jakarta. Hari itu ketua acara mengumumkan sebuah pengumuman penting seputar pembimbing yang akan bertanggung jawab atas kegiatan kita.

“Guys, kenalin beliau Pak Hendra yang akan menjadi penanggung jawab acara kita” ucap ketua acara.

“What? Kenapa harus satu kegiatan juga sih sama Pak Hendra??” ucapku dalam hati.

Entahlah, rasanya hati ini memang telah memiliki perasaan pada beliau. Tapi aku tak punya kuasa, dia adalah suami orang. Sangat tak mungkin bagiku untuk jatuh hati pada beliau.

Aku tak terlalu memperdulikan keberadaan beliau. Kusibukkan diri ini dengan mempersiapkan segala keperluan acara. Namun, lagi dan lagi aku harus terus berurusan dengan beliau. Posisiku sebagai si acara membuatku harus terus berkonsultasi dengan Pak Hendra mengenai kelayakan acara yang aku rencanakan.

“Huu,. Semoga tak ada hal-hal aneh yang akan terjadi” ucapku dalam hati.

Apa sebenarnya yang terjadi pada hati ini? Kenapa rasa aneh ini selalu kurasakan saat aku berada dekat dengan Pak Hendra? Aku tak pernah berharap rasa ini tiba begitu saja. Benarkah ini cinta? Apakah boleh aku mencitai seseorang yang bahkan telah beristri?

——— PART 2 – SELESAI ———

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *