[PART 2] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

 

Pertemuan pertama kami adalah saat ibu kami mengadakan arisan ibu-ibu kompleks. Saat lokasi arisan adalah di rumahku, tante Mona datang bersama anaknya, yaitu Dio dan memperkenalkan dia ke semua ibu-ibu arisan. Wajahnya sangat lucu saat itu, ia terlihat sangat malu dengan wajahnya yang merah dan bersembunyi dibalik badan tante Mona. Aku yang merasa kasihan pun akhirnya menyapa Dio terlebih dahulu. Beberapa kali ajakanku untuk bermain bersama ditolak oleh Dio, ia masih teguh bersembunyi dibalik badan tante Mona. Sampai saat aku berkata “Kamu mau nggak jadi sahabat aku? Nanti kita main bareng terus. Ya?”. Kemudian perlahan ia melepas genggamannya pada baju tante Mona dan berjalan ke arahku. Ku gapai tangannya, dan sejak saat itu hubungan kami menjadi semakin dekat sebagai sahabat.

“Ya ampun Dio kamu dulu ngumpet-ngumpet kayak anak kucing tau ga sih hahaha…. Hhhmm aku jadi keinget kenapa kamu nempelin stiker ini.”

***

Tepat di hari kelulusanku dari sekolah dasar, aku baru saja sembuh dari sakit demam selama dua hari akibat bermain hujan tak kenal waktu. Di hari yang sama pula, ketika mentari mulai menampakkan cahayanya, saat aku baru saja selesai berpakain, aku mendengar suara ketukan dari arah pintu ruang tamu.

Ibu berjalan menuju pintu dan membukanya, sedangkan aku masih sibuk dengan alat tulis apa saja yang akan aku bawa di hari kelulusan ini. Belum selesai aku berbenah, terdengar suara tak asing memanggil namaku dari arah pintu kamarku, Dio rupanya.

“Anne” panggilnya dengan suara semangat khas dari seorang Dio.

“Apa?” jawabku seadanya sambil meneruskan kegiatanku mempersiapkan alat tulis.

“Liat sini deh. Aku mau kasih sesuatu buat kamu hehehe” balasnya dengan nada yang semakin bersemangat.

Tanpa berkata-kata aku menoleh perlahan kearahnya.

“Taraaaa” teriaknya dengan bersemangat sambil menjulurkan sebuah payung berwarna biru laut polos.

“Jadi kamu mau ngasih aku payung?” tanyaku sambil menahan tawa.

“Iyaa hehehe”

“Hihihi okedeh makasi ya”

Belum sempat kuraih, Dio langsung menariknya kembali.

“Loh katanya buat aku? Kok ditarik lagi sih?” tanyaku dengan penuh penasaran.

“Kamu pasti pikir ini payung biasa-biasa aja kan?”

“Hhhmm,. Iya. Memang apa bedanya? Sama aja kan dengan yang lainnya?”

“Nggak dong! Ini spesial”

“Spesial?”

“Iya! Ini payung persahabatan. Coba kamu lihat ini” ucapnya sambil menunjuk sebuah stiker kecil yang berada di pegangan payung tersebut.

“Ini stiker persahabatan! Stiker ini adalah tanda kalau payung ini cuma punya kamu dan cuma dari aku hehehe” lanjutnya sambil menyuguhkan senyum lengkap dengan kedua lesung pipinya diiringi dengan tangannya yang kembali menjulurkan payung tersebut ke arahku.

Dalam beberapa detik aku terdiam dan terkejut mendengar apa yang baru saja Dio ucapkan. Entah kenapa aku merasa senang mendengarnya.

“Waah spesial ya? Cuma punya kita. Payung persahabatan! Makasi Dio. Aku sukaaa” ucapku sambil mengambil dan memeluk payung tersebut lengkap dengan semyumanku.

“Sama-sama hehehe”

“Tapi, kenapa payung?” tanyaku yang seketika penasaran dengan alasan Dio memberiku payung, bukan benda lain.

“Karena aku nggak mau kamu sakit” ucapnya singkat dengan ekspresi serius.

“Ha?” tanyaku yang tak mampu memahami maksud dari perkataan Dio.

“Kamu kan abis sakit karena main hujan kemarin. Jadi setelah ini kamu nggak boleh sering kena hujan. Dan payung ini yang akan melindungi kamu dari hujan. Ingat, nggak boleh sering kena hujan!” ucapnya dengan wajah serius namun dibumbui senyum khasnya.

Aku hanya terdiam mendengarnya.

Kuanggukkan kepalaku sambil memberinya senyuman.

Sejak saat itu, setiap kali langit menampakkan tanda akan hujan, aku selalu membawa payung persahabatan kami. Memasuki bangku SMP aku dan Dio memulai masa-masa kami di sekolah yang sama. Dan disaat yang sama pula kami mulai mengukir cerita yang hanya kami berdualah yang mengerti.

***

“Makasih ya Dio, karena sejak hari itu aku nggak pernah lupa bawa payung setiap kali mau hujan”

Tanpa sadar mataku kembali dipenuhi air mata.

Dan tanpa kusadari air mata itu telah mengalir dengan derasnya.

 

 

——— BERSAMBUNG ———

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *