Nenek Rambut Kuning

[PART 1] Nenek Rambut Kuning

Siang hari yang sama seperti biasanya, dengan jalanan yang sama dan aktivitas yang sama. Aku bosan. Hariku selalu sama saja dengan biasanya, tak ada hal yang menarik satupun. Terkadang aku ingin mencoba menjadi orang lain. Menjalani kehidupan yang berbeda, menjalani kehidupan yang tak lagi monotone.

“Haaahh,. Tapi mana bisa? Memangnya ini dongeng yang bisa dengan mudah berharap hal-hal aneh kemudian akan dikabulkan?” ucapku dalam hati sambil sedikit tertawa.

Teman-temanku pun begitu. Rasanya aku mulai bosan berteman dengan orang-orang yang sama. Aku peduli pada mereka, aku sayang mereka dan mereka pun begitu padaku. Tapi entahlah, terkadang aku merasa bosan dengan mereka.

Suatu hari aku mencoba hal lain. Sebenarnya hanyalah hal kecil, tapi apa salahnya dicoba. Siapa tahu dengan begitu aku menemukan hal baru yang menarik. Aku mencoba melalui jalanan yang berbeda. Biasanya aku selalu melewati jalanan perumahan ketika berangkat dari rumah ke kampus. Tapi hari itu aku mencoba melewati jalan raya yang cukup ramai dengan berbagai macam kendaraan.

Jarak kedua jalanan itu sebenarnya tak terlalu berbeda. Hanya saja jika melewati jalan raya aku harus melewati tiga tikungan, sedangkan jika melewati perumahan aku hanya perlu melewati satu tikungan.

Hari itu saat aku baru saja melewati tikungan kedua, tepat di depan sebuah minimarket aku melihat seorang nenek. Dari penampilan dan badan beliau sebenarnya sama saja dengan nenek-nenek pada umumnya. Dengan pakaian sederhana serta kulit yang keriput. Tapi ada satu hal yang cukup menarik perhatianku, yaitu rambut. Bukannya memiliki rambut putih seperti nenek-nenek pada umumnya, nenek tersebut justru memiliki rambut berwarna kuning cerah seperti matahari yang menyala.

“Itu rambut asli atau palsu ya?” pikirku dalam hati.

Dengan dua kantong plastik besar nenek tersebut menjual nasi bungkus pada orang-orang yang lewat di depan minimarket.

Entah kenapa kini aku selalu melewati jalanan tersebut dan selalu melihat nenek tersebut. Namun, setiap hari itu pula aku selalu menemukan hal-hal aneh yang dilakukan oleh nenek tersebut. Ada sebagian orang yang menerima perilaku aneh nenek tersebut dengan baik, namun ada pula sebagian orang yang memperlakukan nenek tersebut dengan sikap yang buruk, bahkan tak jarang pula orang memperlakukan beliau dengan kasar.

Terkadang aku sendiri tak habis pikir dengan perilaku nenek tersebut. Karena dari apa yang telah kulihat, beliau selalu saja bersikap aneh pada orang-orang yang terlihat sedih dan tidak bersemangat. Setiap beliau menemukan orang yang seperti itu, beliau selalu langsung bersikap sok akrab, sok kenal dan sok dekat. Sampai suatu hari aku melihat kejadian yang cukup membuatku kesal atas sikap seseorang terhadap nenek tersebut.

***

Ketika aku sedang berhenti tak jauh dari tempat nenek tersebut, aku melihat seorang laki-laki berbadan besar yang sedang berjalan sambil mengomel dan berbicara pada diri sendiri. Samar-samar kudengar, rupanya laki-laki tersebut sedang berselisih dengan istri karena tidak membawa uang sama sekali ketika pulang ke rumah. Kemudian nenek tersebut mendekati lelaki itu dan menarik tangan beliau perlahan.

“Apa sih nek?” ucap lelaki itu.

“Ayo nak ikut nenek sebentar” ucap nenek tersebut dengan terbata-bata.

“Jangan ganggu deh nek. Lagi pusing nih” ucap lelaki itu dengan nada keras sambil berusaha melepas genggaman tangan nenek tersebut.

“Ayo nak” nenek tersebut kembali menggapai tangan lelaki itu dan berusaha menariknya kembali.

Keadaan nenek saat itu terlihat cukup lemah sehingga beliau tak mampu banyak berkata-kata. Namun, tak lama kemudian lelaki itu membanting genggaman tangan nenek tersebut hingga beliau pun terjatuh. Tak berhenti sampai disitu, lelaki tersebut masih memukuli nenek tersebut sambil mengomel dengan nada keras. Beruntung orang-orang sekitar segera datang dan menolong nenek tersebut.

Orang-orang membawa lelaki itu pergi menjauh, sedangkan nenek tersebut kembali ke tempat beliau berjualan, di dekat kantong plastik milik beliau yang berisi nasi bungkus untuk dijual. Kulihat nenek tersebut batuk-batuk tiada henti. Batuk beliau terlihat berat, terlihat menyakitkan. Kulit beliau yang keriput tak lagi terlihat memar atau memerah meski baru saja dipukul oleh lelaki itu. Tapi aku yakin betul jika beliau pastilah merasa kesakitan.

***

Dua hari setelah kejadian lelaki kasar itu aku tak lagi melihat nenek tersebut. Di hari ketiga setelah kejadian lelaki kasar itu pun aku tak lagi melihat nenek tersebut. Tanpa sadar ketiadaan nenek tersebut membuatku penasaran dan mencari tahu dimana beliau saat ini.

Aku bertanya kepada orang-orang yang sering berada di sekitar minimarket dan kudapati alamat tinggal nenek tersebut namun bukanlah alamat lengkap. Melainkan hanya sebuah daerah saja yang kudapatkan. Rupanya nenek tersebut tinggal di daerah perkampungan di pinggir sungai yang tak jauh dari minimarket tempat beliau biasa berjualan.

Saat memasuki perkampungan tersebut aku kaget. Tak bisa dibilang kotor, tapi tak bisa dibilang bersih pula. Lokasi perkampungan yang berada tepat disamping sungai membuat rumah-rumah penduduk terlihat lembab. Kepadatan penduduk membuat rumah-rumah di perkampungan itu sangat berdekatan, bahkan hampir tak ada celah sedikitpun antara rumah satu dengan yang lainnya. Tak sedikit pula rumah serta warung dibangung diatas pinggiran sungai dengan menggunakan kayu.

Tanpa basa-basi aku segera mencari rumah nenek tersebut.

“Permisi, maaf mengganggu. Mau tanya rumah nenek yang punya rambut kuning itu dimana ya?” tanyaku pada beberapa penduduk yang sedang bersantai di pinggiran sungai.

“Oh nenek Marni? Itu rumahnya tinggal jalan lurus trus cari aja rumah yang ada tulisannya Nasi Bungkus Nek Marni” ucap salah seorang diantara beberapa orang tersebut sambil menunjuk kearah jalanan yang harus kulewati.

“Mau cari Nek Marni ya dek? Tapi kayaknya kemarin lagi nggak di rumah deh. Soalnya dari kemarin nggak keliatan” ucap salah seorang lainnya.

“Oh gitu, iya saya mau cari Nek Marni. Saya coba lihat dulu ke rumah beliau. Terimakasih atas infonya” ucapku sambil berpamitan pada beberapa orang yang kutanyai.

“Iya silahkan” sahut salah satu diantara mereka.

Aku berjalan menelusuri jalanan tepat di pinggir sungai dengan rumah-rumah yang berdempetan. Kemudian aku berhenti saat melihat sebuah rumah kecil berukuran satu petak dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Di pintu rumah tersebut tertulis “Nasi Bungkus Nek Marni”. Aku sampai di rumah nenek yang selalu kuperhatikan setiap kali berangkat ke kampus melewati jalan raya.

Kuketuk pintu yang terbuat dari kayu itu. Kondisi pintu yang telah menua serta terkena lembabnya udara di sekitar sungai dan panasnya matahari membuat kayu pintu tersebut tak lagi kuat, suara ketukannya tak lagi keras. Model pintu nya pun tak seperti pintu pada umumnya yang memiliki pegangan pintu, namun hanyalah sebuah kayu besar yang hanya perlu di dorong untuk membukanya. Jika pun ada pengunci, mungkin hanya dapat dikunci dari dalam menggunakan model pengunci pintu lama seperti pada jaman dahulu.

Aku terus mengetuk pintu tersebut berkali-kali namun tak ada tanggapan satupun. Kucoba dorong pintu tersebut dan ternyata bisa. Pintu yang menua itu terbuka secara perlahan, dan aku pun dapat melihat bagian-bagian dalam rumah tersebut secara perlahan.

Kulihat terdapat cahaya kecil dari sebuah lampu tua yang masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Terlihat tak ada listrik sedikit pun. Model rumah yang hanya satu petak membuatku mampu dengan jelas melihat semua bagian rumah meski hanya sekali.

Kemudian aku melihat seseorang terbaring lemas tak berdaya tepat di dekat pintu masuk. Hanya beralaskan tikar tua dan menggunakan tumpukan kain sebagai penyangga kepala, kulihat nenek rambut kuning yang biasa berjualan di depan minimarket itu sedang tergeletak lemas tak berdaya.

 

 

——— PART 1 – SELESAI ———

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *