[Part 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

Hai pembaca, dapat salam dari panasnya ibukota.

Teruntuk kamu yang saat ini telah menjadi imamku.
Tahukah kamu bagaimana bahagianya aku saat ini?
Tahukah kamu betapa aku sangat bersyukur atas apa yang baru saja kita lalui?
Dan,.
Tahukah kamu bagaimana awal mula aku yang tanpa sadar mulai mengagumi sosokmu?

Akan kuberikan satu kata, yaitu “kertas”.

Dari segudang kertas yang pernah ku goreskan tinta, dari sekian kertas yang kumiliki, hanya satu kertas kecil itu yang tanpa sadar selalu kusimpan rapi diantara lembaran buku harianku. Sebuah kertas kecil bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”. Sebuah kalimat yang seharusnya tiada arti bagiku yang saat itu sama sekali tak mengenalimu, sang pemilik kertas tersebut.

Lalu, bagaimana semua ini dapat terjadi?

Selamat datang dalam dunia penuh cinta dan duka,.

Aku adalah seorang mahasiswa Sistem Informasi semester enam. Nama panjangku Okta Putri Permatasari, sering dipanggil Okta oleh teman-temanku. Aku seorang muslimah yang berhijab, namun pergaulanku tak melulu hanya dengan perempuan karena aku adalah tipe anak yang aktif di organisasi. Aku bukanlah sosok yang lemah lembut, tapi aku juga bukanlah sosok yang kasar. Aktif di organisasi membuatku menjadi tipe mahasiswa yang selalu pulang malam.

Dan malam itu, ditengah kampus yang mulai sepi ditinggalkan mahasiswa karena hari yang semakin larut, aku berjalan di tengah lorong sepi. Hanya terlihat dua sampai lima orang yang masih melewati lorong tersebut. Dengan santai aku berjalan langkah demi langkah. Sesekali kulihat kearah samping kanan dan samping kiri.

Hingga ketika kukembalikan pandanganku lurus kedepan, terlihat sebuah kertas kecil yang tergeletak dengan indah di lantai koridor tepat di depan pintu ruang dosen. Entah kenapa rasanya aku sangat ingin melihat kertas tersebut. Perlahan kuambil kertas kecil itu yang sekilas terlihat kosong. Sampai ketika posisi kertas kubalikkan, terlihat sebuah kalimat yang tergoreskan diatas kertas tersebut. Sebuah kalimat bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”.

Seperti terkena serangan jantung, tanpa sadar tiba-tiba jantung ini berdegup dengan sangat kencang. Aku sama sekali tak mengenali siapa pemilik kertas tersebut. Tak sedikitpun tergores ciri-ciri dari pemilik sesungguhnya kertas tersebut. Sebuah keanehan yang tak pernah kualami. Bagaimana bisa jantung ini berdegup sangat kencang seolah-olah aku baru saja mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang, padahal aku hanya membaca sebuah kalimat yang tergores diatas kertas kecil ditanganku.

Seolah ada yang membimbingku, hati ini dengan mantap meletakkan kertas kecil itu diantara lembaran kertas di buku harianku. Sebuah kertas kecil misterius itu kini tanpa sadar telah menjadi bagian dari kisahku.

Keesokan harinya, aku kembali menjalani rutinitasku seperti biasanya. Mengikuti kelas-kelas sesuai dengan jadwalku. Namun, rasanya ada yang berbeda. Pada kelas terakhirku, terlihat sosok lelaki yang rasanya baru saja kulihat. Sosok lelaki yang selama ini belum pernah kutemui di kampus. Beliau adalah Pak Hendra, yang kini menggantikan dosen mata kuliah terakhirku, yaitu Pemrograman Berbasis Objek. Informasi yang kudapatkan mengatakan bahwa dosenku yang sebelumnya sudah tak lagi mengajar di kampusku karena beberapa alasan, dan jadilah Pak Hendra menggantikan beliau.

Dari apa yang telah kulihat, Pak Hendra rupanya masih berumur sekitar 26 tahun. Umur yang masih cukup muda untuk menjadi dosen. Penampilan beliau sangat rapi, dengan celana diatas mata kaki layaknya apa yang telah disunnahkan dalam agamaku. Cara bicara beliau sangat lembut dan senyumnya seakan mampu menyihir mata ini.

Saat beliau memanggil satu per satu mahasiswa untuk absen, tepat ketika giliran namaku yang dipanggil, entah kenapa hati ini seakan bergetar dan jatung ini seketika berdegup kencang. Detik itu pula cara pandangku pada beliau berubah. Aku tak lagi hanya melihat beliau sebagai seorang dosen, namun kini aku melihat beliau menjadi orang spesial yang baru saja kutemui. Seakan kami memiliki ikatan yang tak mampu didefinisikan, dalam beberapa detik mata kami saling menatap penuh makna. Seakan bukan tatapan selayaknya antara dosen dan mahasiswa, tatapan yang singkat namun penuh makna itu seketika mampu membuat hati ini menjadi lebih kacau.

Ketika tatapan kami berakhir dan Pak Hendra memanggil nama mahasiswa-mahasiswa selanjutnya, muncul begitu banyak pertanyaan dalam benakku. Siapa sebenarnya Pak Hendra ini, bagaimana bisa jantung ini berdegup kencang hanya dengan tatapan itu?

Sebuah misteri dan tanda tanya besar kini telah hadir dan memasuki kisahku, sebuah kisah yang tak pernah mampu kubayangkan sebelumnya. Antara aku dan kamu, siapa yang sesungguhnya mencintai? Mungkinkah aku mencintaimu sejak pertemuan pertama kita? Mungkinkah aku mencintaimu karena takdir yang telah menentukan? Atau ini hanyalah cinta sesaat tak berujung?

——— PART 1 – SELESAI ———

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *