[PART 1] Hujan di Bawah Payung

Salah satu fungsi payung adalah melindungi kita dari hujan, bahkan hujan yang sangat deras sekalipun. Aku begitu percaya bahwa payung takkan membiarkan air hujan membasahiku, khususnya pada payung yang sedang kugunakan saat ini. Sebuah payung berwarna biru laut polos dengan stiker kecil bermotif seorang cowok dan cewek sedang berpegangan tangan yang masih menempel kuat di pegangan payung. Aku sangat menyukai payung ini, bukan hanya karena warnanya yang indah tapi juga karena ada begitu banyak kenangan yang selalu aku dan dia simpan di bawah payung indah ini.

Ah, aku jadi teringat kejadian satu tahun yang lalu.

***

Ditengah hujan yang cukup deras, tepat di hari terakhir Ujian Nasional SMA, aku berjalan bersama Dio dalam satu payung. Bukan hal yang aneh ketika kami jalan berdua, tak ada rasa canggung atau pun malu. Ini karena kami selalu bersama-sama dalam sepuluh tahun belakangan ini. Sahabat yang tak terpisahkan, mungkin bisa dibilang begitu. Karena takdir tanpa sadar selalu mempertemukan kami di tempat yang sama, dan itulah yang menjadi salah satu penyebab kami dapat terus bersama.

Namun hari itu, tanpa diduga menjadi hari dimana rasa canggung itu mulai muncul diantara kami berdua. Tepatnya dimulai ketika Dio berkata:

“Aku sayang sama kamu lebih dari seorang sahabat”

Satu kalimat itu sontak membuat sepasang kakiku berhenti melangkah. Ada jeda beberapa detik setelah itu, kemudian aku memalingkan wajahku ke arah Dio. Kami pun saling bertatapan. Kulihat mata Dio yang dipenuhi dengan kejujuran, ketulusan dan keseriusan.

Mataku kini melihat bawah ke arah sepasang sepatuku yang basah terkena air hujan. Aku hanya diam. Mulutku tiba-tiba terkunci, seakan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

“Jangan terlalu dipikirin. Aku nggak nuntut apa-apa kok” sahutnya.

Aku mengarahkan kembali pandanganku pada Dio, kulihat ia yang sedang tersenyum tipis, terlihat begitu manis dengan kedua lesung pipi yang dimilikinya.

“Aku bilang itu cuma supaya kamu tahu aja. Biar nggak aku pendam terus menerus hehehe. Jadi nggak usah mikir aneh-aneh dan nggak usah merasa canggung atau malu ya” lanjutnya dengan sedikit tertawa renyah khas seorang Ahmad Dio Saputra.

Kemudian aku hanya mengangguk kecil sambil tersenyum padanya.

***

“Saat kamu bilang supaya aku nggak merasa canggung, jujur itu susah Dio. Aku selalu berusaha keras supaya nggak bersikap canggung di depan kamu. Dan setelah pernyataan kamu yang tiba-tiba itu, hatiku nggak karuan. Setiap hari. Di satu sisi hatiku ingin mengatakan kalimat yang sama denganmu, tapi di lain sisi entah karena alasan apa aku harus menahan kalimat itu. Dan karena kebodohanku dalam bersikap, kini aku menyesal atas apa yang telah terjadi setelah hari itu. Rasanya kata maaf pun takkan pernah cukup.”

Ahmad Dio Saputra, itu nama lengkapnya. Seorang cowok dengan kulit sawo matang, mata indah dengan bulu mata yang lentik, serta dua lesung pipit khas di pipi kanan dan kirinya. Dia bukan seorang cowok yang didambakan banyak wanita, bukan pula seorang cowok yang populer. Dia hanyalah seorang Dio, cowok biasa-biasa saja bagi sebagian besar perempuan namun punya arti tersendiri bagi hidupku.

Namaku Anne Marrie Nasution, biasa dipanggil Anne. Saat ini aku adalah mahasiswi semester dua akhir di sebuah perguruan tinggi swasta yang berlokasi di Malang. Aku dan Dio lahir di tahun yang sama, kami tumbuh bersama sejak kami berusia tujuh tahun, saat Dio bersama keluarganya baru saja pindah ke rumah yang hanya berjarak lima rumah dari rumahku.

 

——— BERSAMBUNG ———

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *