broken heart

Mencintai Hati yang Telah Dimiliki

Pergantian tahun ajaran baru telah berjalan sekitar enam bulan yang lalu. Hari ini adalah hari pertamaku duduk di bangku kelas 3 SMK setelah prakerin selama empat bulan. Namaku Via, di bangku kelas 3 ini aku kembali satu kelas dengan beberapa sahabatku ditambah dengan orang-orang baru yang dulu hanya kukenal sebatas nama. Aku dan sahabat-sahabatku duduk berdekatan, kami duduk dibangku tengah-tengah, yang tak terlalu jauh dari guru namun juga tak terlalu dekat dengan guru karena kami adalah tipe cewek yang selalu ramai ketika disatukan. Meskipun saat awal tahun ajaran baru kami telah berkumpul di kelas yang sama, tapi entah bagaimana aku sama sekali belum dekat dengan teman-teman baruku. Dan setelah prakerin lah semuanya dimulai, aku menjadi lebih mengenal teman-teman baruku.

Setelah berjalan sekitar satu bulan, aku sudah mulai mengenal baik teman-teman yang dulunya hanya kukenal sebatas nama saja. Beralih dari masalah pertemananku, di bangku SMK aku telah memiliki seorang pacar bernama Fedy, kami berpacaran mulai kelas satu SMK. Dia adalah kakak kelasku, jadi ketika aku masuk kelas 3 SMK artinya dia telah lulus dan saat ini dia melanjutkan kerja dan kuliah di Jakarta. Namun, hubungan itu tak berjalan lancar, di kelas 3 ini pun aku mulai mempertanyakan tentang perasaanku dengannya. Entah ini karena hubungan kami yang LDR atau memang hatiku tak lagi bersatu dengan hatinya ? Aku belum tahu jawabannya.

Sekitar pertengahan bulan kedua setelah aku yang awalnya duduk di bangku nomor dua dari depan tiba-tiba merasa bosan dan ingin pindah ke bangku belakang. Setelah bernegosiasi dengan teman-teman di belakang, aku pun mendapatkan posisi duduk nomor dua dari belakang. Aku duduk dengan teman baruku yang mulai kukenal setelah prakerin, namanya Evan. Awalnya aku sedikit canggung saat duduk disebelahnya, namun hal itu tak berlangsung lama. Entah berawal dari apa kami pun menjadi cukup dekat. Bahkan ia terlihat tak ragu saat menceritakan keluh kesahnya tentang sang pacar, ya Evan pun telah memiliki pacar. Kami pun menjadi rekan sebangku yang sangat akrab. Hari-hariku di bangku kelas 3 SMK terasa indah dan menyenangkan. Aku dan Evan seringkali berkirim pesan, mesikupun intensitasnya pun tak terlalu sering. Namun entah bagaimana setiap pesan yang dikirimnya selalu mampu membuatku tersenyum tanpa sebab.

Kami begitu dekat sampai seketika aku lupa bahwa aku dan dia bukan orang yang harus bersatu.

Hal ini semakin kuat dibenakku ketika Evan mengatakan bahwa dia serius dengan pacarnya, dia sangat mencintai cewek tersebut. Aku yang mulai lupa diri pun akhirnya terbangun dari mimpi indahku, tersadar akan kenyataan bahwa aku tak mungkin bersama Evan. Tapi aku egois, aku ingin merasakan kebahagiaan ini lebih lama lagi meskipun ini hanya cinta sepihak setidaknya aku ingin bahagia seperti saat ini. Aku pun tetap dekat dengan Evan, meski aku pun mampu melihat mata Evan yang sama sekali tak menaruh hati padaku. Biarlah ini menjadi rahasiaku dan menjadi penyemangat tersendiri bagiku.

Kesibukanku di kelas tiga ini mulai bertambah, selain mengikuti try out dan les tambahan dari sekolah, aku pun harus ikut tes perekrutan dari industri. Ya, aku memutuskan untuk melanjutkan bekerja dan kuliah. Aku mengikuti beberapa tes perekrutan dan diterima di sebuah perusahan IT Solution yang berlokasi di Jakarta. Beruntung orang tuaku memberikan ijin untuk aku pergi ke Jakarta. Beberapa hari setelah pengumuman penerimaaan karyawan, kami satu angkatan yang duduk di bangku kelas tiga melaksanan liburan ke Bali. Jadwalku pun telah padat setelah dari Bali nantinya, dimana aku harus langsung pergi ke Jakarta untuk mulai bekerja dan akan kembali lagi saat hari dimana kami akan wisuda.

Perjalan ke Bali dimulai. Aku tak tahu berawal dari apa namun kebahagiaanku berubah saat di Bali. Evan yang biasanya sangat friendly denganku, saat itu ia berbeda. Aku melihatnya seperti sosok yang sama namun berbeda. Aku sama sekali tak bisa dekat dengannya. Harapanku yang ingin merasakan indahnya Bali sebagai simbol kebahagiaanku musnah begitu saja. Aku pun tak mengerti bagaimana perubahan ini bisa terjadi bergitu cepat. Apakah karena saat di Bali Evan selalu bersama dengan teman-teman dekatnya yang menurutku teman-teman ceweknya itu pun rasanya baru dekat dengannya dalam belakangan ini saja. Aku tak tahu apa jawabannya. Yang kutahu hanya kesedihanlah yang kurasakan saat di Bali. Aku berusaha menumbuhkan kebahagiaan bersama sahabat-sahabatku, namun rasa sedih dan rasa sakit itu selalu muncul meski hanya beberapa detik.

Aku sedih, aku merasa sakit tapi disisi lain pun aku tak mampu berbuat apa-apa. Perjalanan di Bali pun kuhabiskan dengan kebahagiaan palsu yang telah kubuat. Berbeda denganku, Evan terlihat selalu bahagia, selalu tersenyum, selalu tertawa. Apakah dia tak tahu jika ada aku disini ? Oh mungkin tidak, memangnya siapa diriku yang hanya bagaikan daun gugur tertiup angin yang tak tahu akan kembali ke pohon semula atau justru terjatuh pada pohon baru. Mungkin aku hanya sebuah daun yang melalui pohonmu selama beberapa saat dan kemudian aku pun harus pergi karena kenyataan tak meminta kita untuk bersatu. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya mampu merasakan sedih dan sakit ini.

Keberadaanku yang satu kelas dengan Evan pun membuatku harus menerima kenyataan bahwa aku satu bis dengannya. Keberadaanku di dalam bis pun rasanya seperti orang asing. Aku yang biasanya selalu bercanda bersama teman-teman dan sahabatku, saat di Bali semuanya berbeda. Di dalam bis aku hanya mampu terdiam sambil melihat suasana di luar jendela bis. Aku salah besar karena telah berharap menjadi peran utama dalam kisah ini. Pada kenyataannya aku hanya figuran yang jatuh cinta pada hati yang salah. Evan bahkan tak memperhatikanku sama sekali. Hah, memangnya siapa aku ? Mana mungkin Evan memperhatikanku yang bukan siapa-siapa ini.

Perjalanan selama di Bali akhirnya berakhir setelah tiga hari berlalu. Hatiku merasa lega, sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Aku merasa lega akhirnya rasa sakit ini akan berkurang. Setidaknya setelah ini aku harus pergi ke Jakarta dan hal tersebut mampu membuatku setidaknya melupakan kesedihanku. Namun, semua tak seperti yang kubayangkan. Saat di perjalanan menuju Jakarta, entah berawal dari siapa aku dan Evan saling berkirim pesan selama aku di perjalanan. Evan yang saat itu belum mendapat pekerjaan masih disibukkan dengan keperluan tes perekrutan di beberapa perusahaan. Selama kurang lebih dua minggu awal aku di Jakarta, kami cukup intensif dalam hal berkirim pesan. Aku selalu berusaha mendukungnya agar tetap berusaha keras mencari pekerjaan.

Sampai ketika aku harus kembali untuk wisuda, aku dan Evan kembali menjadi sosok yang tak saling mengenal. Entah ini berasal dari diriku atau dari Evan atau dari kami berdua ? Aku tak tahu itu. Saat aku akan pergi lagi ke Jakarta, Evan telah lebih dulu pergi karena urusan pekerjaannya, ya selama dua minggu tersebut akhirnya dia diterima di sebuah perusahaan di Jakarta. Aku menitipkan sebuah kotak berisi surat dan sebuah gelang untuknya. Kutitipkan kotak tersebut pada sahabatnya. Dalam surat tersebut aku menuliskan semua yang ada di hatiku. Saat ketika aku bahagia karenanya, dan saat ketika aku sedih karenanya.

Setelah hari itu, aku tak berharap apa-apa. Aku tak mengharapkan balasan perasaan, atau pun belas kasihan. Yang kulakukan itu murni untuk mengungkapkan setiap keluh kesah yang selama ini telah kupendam. Tapi, rasanya semesta berkata lain. Entah berawal dari siapa, kami pun kembali sering berkirim pesan. Sampai ketika pacarku melihat pesan-pesan itu dan dia marah padaku. Aku merasa bersalah, akulah yang patut disalahkan. Aku sudah jatuh pada perasaan yang tak seharusnya ada ini. Sambil menangis aku mengirim pesan pada Evan. Tapi, meskipun begitu besar harapanku bahwa Evan akan mempertahanku karena dari lubuk hati terdalam, aku berharap dia pun menyimpan perasaan yang sama padaku.

Namun, rasanya aku memang bukan untuknya. Setelah hari itu kami benar-benar hilang kontak. Bahkan saat aku putus dengan pacarku beberapa bulan setelah kejadian itu, dia sama sekali tak menghubungiku. Aku sedih. Aku merasa seperti orang bodoh yang dengan mudah jatuh cinta pada orang yang salah. Dari awal memang aku tak seharusnya jatuh cinta padanya. Biar bagaimanapun, Evan memang hanya cinta pada pacarnya. Dia tak pernah menaruh hati padaku. Aku bukan siapa-siapa baginya, dan dalam hubungan kami hanya akulah yang mengharapkan hubungan kami menjadi lebih dari sekedar teman atau sahabat.

Sudah sangat lama setelah lulus kami tak pernah bertemu, tentu saja ini membantuku untuk segera melupakannya. Tapi, saat aku melihatnya lagi di acara alumni sekolah kami. Saat itu hatiku kembali sakit. Melihatnya secara langsung di depan mataku rasanya membuatku kembali teringat saat-saat itu. Hatiku kembali sakit untuk sesaat. Yang mampu kulakukan saat melihatnya adalah berusaha menghindar dan kami tak lagi pernah saling menyapa. Aku tak menyangka bahwa pengaruh cinta mampu sehebat ini. Kami yang awalnya sangat dekat, kini kami menjadi sosok yang sama sekali tak saling mengenal. Mungkin baginya aku adalah orang asing yang dulu pernah jatuh hati padanya. Dan bagiku, dia adalah bagian kecil dari kehidupan cintaku selama ini.

Kami memang ditakdirkan untuk berada di jalan masing-masing. Jalan yang kami tempuh tidak akan menjadi sebuah jalanan yang sama. Karena kami memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Dan aku telah salah mencintai hati yang telah dimiliki orang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *