Category: Cerpen

[Surat Cinta untuk Evan] Rasa yang Tak Pernah Hilang

[Surat Cinta untuk Evan] Rasa yang Tak Pernah Hilang

“Rasa yang Tak Pernah Hilang”

Sabtu, 9 Desember 2017

 

Hi Evan,.

Bagaimana kabarmu?

Masih ingatkah kamu denganku?

Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kita saling berkomunikasi. Ada begitu banyak hal yang terjadi saat kita tak lagi menjalin komunikasi. Apakah kamu penasaran?

Tapi aku takkan menceritakan semuanya, maaf. Aku hanya akan menceritakan semuanya jika kita memang ditakdirkan bersama. Tapi apakah itu mungkin? Entahlah, aku hanya bisa berdoa dalam setiap ibadahku agar didekatkan dengan jodohku yang entah siapa. Mungkinkah itu kamu? Jika boleh berharap mungkin jawabannya adalah iya.

Mungkin surat ini memang sedikit mengejutkan setelah kita bertahun-tahun tidak berkomunikasi.

Ini bukan sekedar surat biasa Evan, ini adalah surat tulus yang tertulis atas hati yang berbicara.

[Part 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 3] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

 

Satu minggu setelah hari pengumuman itu, kami berkumpul lagi untuk membahas perkembangan acara yang sedang direncanakan. Dan tentu saja lagi-lagi aku bertemu dengan beliau. Semua anggota berdiskusi dengan sangat serius, aku pun melakukan hal yang sama. Sekitar lima jam kemudian diskusi pun kita tutup karena waktu yang telah cukup malam. Aku pun mengemas barang-barangku dan berpamitan dengan anggota lainnya, begitu pula dengan Pak Hendra.

“Pak Hendra saya pamit pulang dulu ya pak, terimakasih atas bantuannya hari ini” ucapku dengan penuh rasa hormat sambil menahan rasa aneh yang masih saja bergejolak dalam hatiku.

“Oh oke Okta. Hati-hati di jalan ya” ucap beliau.

[Part 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 2] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

 

“Pak Hendra, ini koding saya kok ngga jalan ya?” tanya seorang mahasiswa yang posisinya tepat disebelah kiriku.

Dengan sigap namun santai pak Hendra menghampiri mahasiswa tersebut, beliau periksa setiap kode dari baris satu hingga baris terakhir. Tanpa sadar aku sesekali memperhatikannya. Sesaat aku memperhatikan wajahnya, sesaat pula aku memperhatikan gerak gerik tubuhnya, termasuk gerak gerik tangannya. Namun, perasaan sedih dan kecewa menghampiriku ketika mata ini dengan jelas melihat sebuah cincin perak yang melingkar dengan indah di tangan kanan beliau. Cincin itu terlihat berkilau dan indah, seakan mendefinisikan perasaan nyata sang pemilik.

[Part 1] Kertas yang Membawaku Padamu

[PART 1] Kertas yang Membawaku Padamu

Hai pembaca, dapat salam dari panasnya ibukota.

Teruntuk kamu yang saat ini telah menjadi imamku.
Tahukah kamu bagaimana bahagianya aku saat ini?
Tahukah kamu betapa aku sangat bersyukur atas apa yang baru saja kita lalui?
Dan,.
Tahukah kamu bagaimana awal mula aku yang tanpa sadar mulai mengagumi sosokmu?

Akan kuberikan satu kata, yaitu “kertas”.

Dari segudang kertas yang pernah ku goreskan tinta, dari sekian kertas yang kumiliki, hanya satu kertas kecil itu yang tanpa sadar selalu kusimpan rapi diantara lembaran buku harianku. Sebuah kertas kecil bertuliskan “Aku mencintaimu karena Allah”. Sebuah kalimat yang seharusnya tiada arti bagiku yang saat itu sama sekali tak mengenalimu, sang pemilik kertas tersebut.

Lalu, bagaimana semua ini dapat terjadi?

Selamat datang dalam dunia penuh cinta dan duka,.

broken heart

Mencintai Hati yang Telah Dimiliki

Pergantian tahun ajaran baru telah berjalan sekitar enam bulan yang lalu. Hari ini adalah hari pertamaku duduk di bangku kelas 3 SMK setelah prakerin selama empat bulan. Namaku Via, di bangku kelas 3 ini aku kembali satu kelas dengan beberapa sahabatku ditambah dengan orang-orang baru yang dulu hanya kukenal sebatas nama. Aku dan sahabat-sahabatku duduk berdekatan, kami duduk dibangku tengah-tengah, yang tak terlalu jauh dari guru namun juga tak terlalu dekat dengan guru karena kami adalah tipe cewek yang selalu ramai ketika disatukan. Meskipun saat awal tahun ajaran baru kami telah berkumpul di kelas yang sama, tapi entah bagaimana aku sama sekali belum dekat dengan teman-teman baruku. Dan setelah prakerin lah semuanya dimulai, aku menjadi lebih mengenal teman-teman baruku.

Setelah berjalan sekitar satu bulan, aku sudah mulai mengenal baik teman-teman yang dulunya hanya kukenal sebatas nama saja. Beralih dari masalah pertemananku, di bangku SMK aku telah memiliki seorang pacar bernama Fedy, kami berpacaran mulai kelas satu SMK. Dia adalah kakak kelasku, jadi ketika aku masuk kelas 3 SMK artinya dia telah lulus dan saat ini dia melanjutkan kerja dan kuliah di Jakarta. Namun, hubungan itu tak berjalan lancar, di kelas 3 ini pun aku mulai mempertanyakan tentang perasaanku dengannya. Entah ini karena hubungan kami yang LDR atau memang hatiku tak lagi bersatu dengan hatinya ? Aku belum tahu jawabannya.