Kategori: Cerpen

[PART 2] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

 

Pertemuan pertama kami adalah saat ibu kami mengadakan arisan ibu-ibu kompleks. Saat lokasi arisan adalah di rumahku, tante Mona datang bersama anaknya, yaitu Dio dan memperkenalkan dia ke semua ibu-ibu arisan. Wajahnya sangat lucu saat itu, ia terlihat sangat malu dengan wajahnya yang merah dan bersembunyi dibalik badan tante Mona. Aku yang merasa kasihan pun akhirnya menyapa Dio terlebih dahulu. Beberapa kali ajakanku untuk bermain bersama ditolak oleh Dio, ia masih teguh bersembunyi dibalik badan tante Mona. Sampai saat aku berkata “Kamu mau nggak jadi sahabat aku? Nanti kita main bareng terus. Ya?”. Kemudian perlahan ia melepas genggamannya pada baju tante Mona dan berjalan ke arahku. Ku gapai tangannya, dan sejak saat itu hubungan kami menjadi semakin dekat sebagai sahabat.

“Ya ampun Dio kamu dulu ngumpet-ngumpet kayak anak kucing tau ga sih hahaha…. Hhhmm aku jadi keinget kenapa kamu nempelin stiker ini.”

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

Salah satu fungsi payung adalah melindungi kita dari hujan, bahkan hujan yang sangat deras sekalipun. Aku begitu percaya bahwa payung takkan membiarkan air hujan membasahiku, khususnya pada payung yang sedang kugunakan saat ini. Sebuah payung berwarna biru laut polos dengan stiker kecil bermotif seorang cowok dan cewek sedang berpegangan tangan yang masih menempel kuat di pegangan payung. Aku sangat menyukai payung ini, bukan hanya karena warnanya yang indah tapi juga karena ada begitu banyak kenangan yang selalu aku dan dia simpan di bawah payung indah ini.

Ah, aku jadi teringat kejadian satu tahun yang lalu.

Surat Terakhir Untukmu

[Surat Cinta untuk Evan] Surat Terakhir Untukmu

“Surat Terakhir Untukmu”

Sabtu, 10 Februari 2018

 

Sejak pertemuan kita hari itu, rasanya aku bahkan masih tak bisa menghapus perasaan ini.

Kamu sudah menyakitiku, tapi kenapa aku masih bertahan?

Bodoh ya aku hehehe.

Kamu saja tak menganggapku teman, Evan. Segitu nggak pentingnya ya aku? hehehe.

Dan beberapa hari yang lalu aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini sebagai surat terakhir untukmu.

Ya, aku tak akan lagi mengirimkan surat yang tak berguna ini.

Keheningan dalam Pertemuan

[Surat Cinta untuk Evan] Keheningan dalam Pertemuan

“Keheningan dalam Pertemuan”

Sabtu, 03 Februari 2018

 

Bagaimana kabarmu Evan?

Semoga selalu sehat ya,.

Ingatkah kamu beberapa hari yang lalu?

Rabu lalu saat kita berada pada satu acara.

Serius, aku tak menyangka akan menemukanmu ditengah keramaian itu.

Dan lagi, aku tak menyangka jika perusahaan tempat kita bekerja rupanya saling bekerjasama.

Ah, aku masih ingat betul detik itu.

[PART 2 - LAST] Nenek Rambut Kuning

[PART 2 – LAST] Nenek Rambut Kuning

[PART 1] Nenek Rambut Kuning

 

“Ya ampuunn neneekk,..” teriakku keras karena kaget melihat kondisi nenek yang tergeletak lemas dengan bekas darah di sekitar mulut dan dan di telapak tangan beliau. Denyut nadi beliau terdengar samar-samar. Saat itu juga aku langsung menelepon ambulance.

Sambil menunggu ambulance aku membaca beberapa doa agar nenek tersebut bisa selamat. Namun, bacaan doaku terhenti ketika melihat sebuah buku berukuran A5 yang ada di dekat nenek lengkap dengan sebuah bulpoin. Buku tersebut tak lagi terlihat baru, namun sangat menjelaskan bahwa usia buku tersebut telah puluhan tahun. Warna kertas buku tersebut sebagian telah berubah menjadi coklat muda. Tekstur kertasnya pun telah rapuh.

Tanpa sadar aku telah membuka lembar demi lembar dari buku nenek tersebut. Kubaca setiap kata yang beliau goreskan diatas lembaran-lembaran tersebut. Dari sembilan halaman pertama, aku mengetahui bahwa nenek Marni adalah seorang janda sejak umur 35 tahun. Kematian suami beliau yang tepat setelah acara pernikahan membuat beliau mengalami stress dan depresi berat. Beliau menutup diri dari dunia luar selama 35 tahun. Rumah bagus yang dulu beliau tempati telah dijual demi memenuhi kebutuhan hidup nenek. Awalnya nenek mengontrak rumah yang masih cukup layak.